counter

Pelatih: Polo air perlu perbanyak latih tanding jelang SEA Games

Pelatih: Polo air perlu perbanyak latih tanding jelang SEA Games

Timnas polo air putra Indonesia menjalani latih tanding dengan tim polo air putra Universitas Tsukuba, Jepang di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (19/3) (Antaranews/Aditya E.S. Wicaksono)

Jakarta (ANTARA) - Pelatih Milos Sakovic mengungkapkan kedatangan tim polo air putra Universitas Tsukuba, Jepang ke Indonesia merupakan kesempatan yang baik bagi timnas polo air Indonesia untuk melakukan latih tanding menjelang SEA Games 2019.

Tim Universitas Tsukuba akan berada di Indonesia selama satu pekan dan menjalani latih tanding pertama dengan timnas polo air putra Indonesia di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta pada Selasa.

"Pada dasarnya ini latih tanding, jadi kami fokus di permainan. Masalah bagi kami adalah kami tidak memiliki rekan latih tanding di Indonesia," kata Sakovic usai latihan, Selasa..

Pada kesempatan itu, timnas Indonesia tidak diperkuat oleh empat pemain inti karena dua pemain; Reza Auditya Putra dan Ridjkie Mulia, sedang bermain di liga polo air Serbia, dan dua pemain lainnya mengalami cedera.

"Tapi ini menjadi kesempatan yang bagus bagi pemain lain karena mereka memiliki lebih banyak ruang kosong di permainan."

"Di paruh awal, dua kuarter pertama, kami menurunkan para pemain tim nasional, dan kita bisa lihat hasilnya imbang. Tapi di babak kedua, kami beri kesempatan pemain junior yang belum terlalu mendapat banyak latihan dan kami melihat perbedaan yang signifikan," kata pelatih asal Serbia itu.

Sakovic mengaku senang kedatangan tim runner-up kejuaraan polo air antaruniversitas di Jepang tersebut dan berharap timnas polo air Indonesia bisa mendapatkan kesempatan lebih untuk berlatih tanding dengan tim lain.

"Karena latihan adalah satu hal yang berbeda dengan turun di pertandingan. Dengan bermain melawan tim lain kami bisa memperoleh pengalaman lebih dan saya sebagai pelatih bisa melihat seberapa jauh pemain bisa menerapkan apa yang diajarkan ketika latihan," kata Sakovic.

Sakovic mengungkapkan tim latih tanding mereka kali ini memiliki gaya permainan unik dengan mengandalkan serangan balik cepat, reaksi yang bagus dan pressing tinggi.

"Gaya seperti itu yang kami butuhkan di pertandingan. Kami tidak bisa bermain sebagai tim Jepang dan saya tidak melatih tim Indonesia untuk bermain seperti tim Serbia, kami bermain sebagai tim Indonesia."

"Bagi kami ini adalah latihan bagus untuk tahu bagaimana memiliki reaksi yang lebih baik, bagaimana melawan pressing tinggi, jadi setelah gim ini kami yakin pasti bisa lebih baik," kata Sakovic.
Pelatih tim polo air putra Universitas Tsukuba, Jepang, Hideki Takagi ketika menghadiri latih tanding melawan timnas polo air putra Indonesia di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (19/3) (Antaranews/Aditya E.S. Wicaksono)

Sementara itu pelatih tim Tsukuba University, Hideki Tagaki, mengaku senang bisa melakoni latih tanding dengan timnas Indonesia.

"Tentu ini persiapan bagus bagi kami untuk liga selanjutnya, juga kesempatan bagus untuk saling bertukar budaya polo air antara Indonesia dan Jepang. Pastinya ada perbedaan, bagi kami dan pemain kalian, oleh karenanya penting untuk saling mengenal," kata Hideki.

Hideki mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi pemain polo air yang bagus,"tapi mungkin mereka harus lebih memiliki daya tahan," kata Hideki soal stamina para pemain timnas Indonesia.

Bagi tim Tsukuba, kata Hideki, serangan balik adalah salah satu taktik penting dalam menyerang.

"Tidak hanya serangan balik, tapi juga mampu mengubah arah secepat mungkin ketika kita mendapatkan bola, ketika dapat bola, ok, langsung ke arah gawang, itu sangat penting," kata Hideki.

Melihat potensi pemain timnas Indonesia, Hideki mengungkapkan bahwa kemampuan pemain timnas Indonesia akan meningkat jika dibarengi dengan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman bermain dengan tim lain maupun di ajang tingkat internasional.














 

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar