counter

WHO minta 5,3 juta dolar AS untuk penuhi keperluan mendesak di Gaza

WHO minta 5,3 juta dolar AS untuk penuhi keperluan mendesak di Gaza

Warga Palestina menunggu pasokan makanan dari pusat distribusi makanan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat gencatan senjata selama 72 jam di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (11/8). Menurut keterangan Kantor Berita Mesir, juru runding Israel dan Palestina melanjutkan perundingan untuk mengakhiri perang Gaza yang telah berlangsung selama sebulan itu. (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem A)

Kota Gaza (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengajukan permintaan 5,3 juta dolar AS untuk menyediakan campur-tangan penyelamat nyawa dan anggota tubuh untuk sangat banyak pasien yang cedera di Jalur Gaza, kata satu pernyataan pers.

Jumlah pasien tersebut menenggelamkan sistem kesehatan yang rapuh di wilayah kantung Palestina itu, sementara peringatan satu tahun Pawai Akbar Kepulangan pada 30 Maret, yang kian dekat, dapat mengakibatkan korban jiwa lain dan peningkatan orang yang memerlukan perawatan trauma serta layanan rehabilitasi, katanya.

Dana sangat diperlukan untuk menjamin sumber daya minimum yang tersedia buat keperluan kesehatan mendesak, serta meningkatkan kualitas perawatan darurat dan trauma di Jalur Gaza serta mengurangi angka kematian serta kondisi tidak sehat di kalangan dua juta warga yang terancam, kata WHO.

"Keperluan trauma di Jalur Gaza sangat besar. Setiap pekan pasien yang cedera terus berdatangan di rumah sakit dan mereka memerlukan perawatan rumit jangka-panjang. Dukungan keuangan yang diperlukan akan membantu bukan hanya untuk menjembatani jurang pemisah yang lebar tapi juga menjamin bahwa kami dapat bekerjasama dengan pasien kami guna meningkatkan kemampuan perawatan untuk menyediakan perawatan penyelamat nyawa bagi kasus darurat dan memperkuat rehabilitasi," kata Gerald Rockenschaub, Kepala Kantor WHO untuk Wilayah Palestina yang Diduduki.

Sejak dimulainya demonstrasi pada Maret 2018, lebih dari 29.000 orang telah cedera, dan lebih dari 6.500 orang menderita luka tembak serta memerlukan perawatan operasi spesialis jangka panjang serta rehabilitasi, demikian laporan Kantor Berita Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa malam. Untuk semua kegiatan itu, Jalur Gaza terus menghadapi jurang pemisah kemampuan.

Beban trauma yang sangat besar juga mempengaruhi pembagian layanan dasar lain, yang secara langsung mempengaruhi kemampuan untuk menyediakan layanan perawatan kelahiran dan ibu serta menangani pasien penyakit kronis. Operasi yang efektif harus ditunda dan dibatalkan, ranjang rumah sakit dialokasi ulang dan dicadangkan buat pasien operasi, staf kesehatan serta ambulans harus memprioritaskan keperluan darurat.

Pada 2018, WHO mendukung Kementerian Kesehatan dan Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina untuk meningkatkan tahap stabilisasi trauma (TSP) di sepanjang pagar pembatas dengan Israel, sehingga orang yang cedera dapat menerima perawatan penyelamat nyawa di dekat tempat mereka cedera. Luasnya campur-tangan yang diberikan di lokasi di TSP telah terus diperluas hingga mencakup perawatan untuk pasien prioritas, perawatan pertama dan bantuan pertama penyelamat nyawa dan anggota tubuh. Itu telah sangat mengurangi beban rumah sakit,dan sebanyak 50 persen orang yang cedera dirawat dan dipindahkan ke TSP.

Baca juga: Pejabat PBB desak donor tingkatkan bantuan buat Gaza

Baca juga: Pemimpin Mesir-Prancis bahas krisis kemanusiaan di Jalur Gaza

Jalur Gaza Dipadati Pedagang Musiman

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar