counter

Erdogan: kita harus tolak xenofobia, Islamfobia

Erdogan: kita harus tolak xenofobia, Islamfobia

Pengunjuk rasa membawa poster menentang kekerasan dan xenofobia di luar gedung pengadilan di Johannesburg, Afrika Selatan, saat empat terdakwa disidang atas pembunuhan seorang warga Mozambik. Sejumlah gambar yang memperlihatkan sejumlah pria memukuli dan menusuk warga Mozambik Emmanuel Sithole di siang hari bolong disiarkan di harian lokal da memicu seruan kepada polisi untuk melakukan tindakan lebih untuk melindungi para imigran. (REUTERS/Mike Hutchings)

Washington (ANTARA) - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (19/3) mendesak Barat agar bangkit melawan rasisme, xenofobia dan Islamfobia setelah serangan teroris di Selandia Baru.

Di dalam satu artikel yang disiarkan di surat kabar Washington Post, Erdogan mengatakan setelah pembantaian di Christchurch, Barat memiliki "tanggung-jawab tertentu".

"Pemerintah dan masyarakat Barat harus menolak normalisasi rasisme, kebencian kepada orang asing dan Islamfobia, yang telah meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini," kata Erdogan sebagaimana dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu siang. "Penting untuk menegaskan bahwa ideologi pelintiran, seperti anti-Semitsme, meningkat jadi kejahatan terhadap umat manusia."

Sedikitnya 50 orang Muslim wafat ketika seorang tersangka  teroris menembaki orang yang sedang Shalat Jumat di Masjid An-Nur dan Linwood di Christchurch.

Brenton Harrison Tarrant, warga Australia yang berusia 28 tahun, didakwa melakukan pembantaian.

"Kita harus mengungkapkan pada semua aspek mengenai apa yang terjadi dan sepenuhnya memahami bagaimana teroris menjadi radikal dan hubungannya dengan kelompok teroris guna mencegah tragedi pada masa depan," kata Erdogan.

Ia menyatakan semua pemimpin Barat harus belajar dari "keberanian, kepemimpinan dan ketulusan" atas Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan merangkul orang Muslim yang tinggal di negerinya.

Pembantaian tersebut disiarkan langsung di media sosial, dan disertai oleh penyiaran pernyataan terbuka yang rasis serta Islamfobi yang juga menyerang Turki dan presidennya.

Erdogan mengatakan ada banyak rujukan sejarah mengenai senjata pembunuh dan dalam pernyataan terbuka. "Jumlah waktu yang ia sebutkan mengenai Turki dan diri saya mengundang perhatian dan pertimbangan yang lebih dalam."

Tarrant berusaha mensahkan pandangannya dengan menyimpangkan sejarah dunia, kepercayaan Kristen dan berusaha menyebar benih kebencian di kalangan umat manusia, kata presiden Turki itu.

"Sebagai seorang pemimpin yang telah berulangkali menegaskan bahwa terorisme tak memiliki agama, bahasa atau ras, saya dengan tegas menolak setiap upaya untuk mengaitkan serangan teroris pekan lalu dengan ajaran, moral atau ujaran Kristen," katanya. "... Apa yang terjadi di Selandia Baru adalah produk beracun ketidak-tahuan dan kebencian."

Erdogan menyamakan ideologi penyerang Christchurch dengan kelompok teror Da'esh, yang menyerukan "penaklukan" Istanbul seperti Tarrant berjanji di dalam pernyataan terbukanya untuk membuat kota Turki itu "secara benar menjadi milik Kristen lagi".

"Sehubungan dengan ini, kita harus menetapkan bahwa benar-benar tak ada perbedaan antara pembunuh yang membunuh orang yang tak berdosa di Selandia Baru dan mereka yang telah melancarkan aksi teroris di Turki, Prancis, Indonesia dan negara lain," tulis presiden Turki tersebut.

Erdogan berpendapat Islamfobia dan xenofobia diterima dengan kebungkaman di Eropa dan belahan lain dunia Barat.

Sumber: Anadolu
Baca juga: Presiden Erdogan: Turki akan buru semua kelompok teror
Baca juga: Menlu Selandia Baru menuju Turki untuk tanggapi komentar Erdogan

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Maria Dian A
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar