Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono berharap masyarakat menggunakan Teknologi Informasi (TI) seperti facebook, WhatsApp dan lainnya untuk meningkatkan produktifitas sumberdaya manusia Indonesia, sehingga pengaruh negatif perkembangannya bisa diminimalisir.

Dia menilai perkembangan TI merupakan modalitas dan potensi bangsa jika dimanfaatkan sebagai alat komunikasi sesama anak bangsa, dan alat untuk merekatkan silaturahim.

"Teknologi Informasi harus digunakan untuk hal-hal yang produktif dan digunakan untuk membangun cita persatuan bangsa dan kesatuan negara dalam wadah NKRI. Untuk itu kita harus bersama-sama membangun bangsa sekaligus membangun negara," kata Ma'ruf dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.

Hal itu dikatakan Ma’ruf di depan sekitar 400 peserta sosialisasi Empat Pilar MPR di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) di Balige, Sumatera Utara, Selasa (19/3).

Dia mengatakan untuk membangun bangsa dan negara diperlukan aktualisasi nilai nilai luhur dan jatidiri bangsa yang disebut Pancasila.

Persatuan Indonesia menurut dia sebagai komitmen kebangsaan adalah salah satu dari karakter bangsa Indonesia yang dijiwai oleh karakteristik bangsa lainnya yakni sebagai bangsa yang religius, humanis, demokratis dan adil.

Ma'ruf mencontohkan nilai-nilai luhur bangsa yang sering diabaikan adalah nilai demokratis, penyelesaian masalah dan mencari solusi dengan musyawarah mufakat bulat jarang dilakukan, pada akhirnya yang terjadi adalah prinsip mayoritas yang menekan golongan minoritas.

"Dengan demikian cita kemanusiaan dan keadilan tidak mudah diwujudkan," katanya.

Menurut dia, keputusan dan kebijakan yang diambil yang tidak mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat itulah yang menimbulkan berbagai ketidakpuasan dan konflik.

Hal itu menurut Ma'ruf yang tidak baik, tentunya untuk memupuk dan memantapkan persatuan bangsa dan kesatuan negara.

"Saya pikir nilai-nilai demokrasi khas Indonesia inilah yang harus terus dihidupkan sehingga persatuan Indonesia semakin kokoh sebagai syarat mewujudkan cita cita negara sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang Undang Dasar," ujarnya.

Jadi menurut Ma’ruf, kalau musyawarah mencapai mufakat dilakukan atas dasar nilai-nilai transendental hikmat kebijaksanaan, maka apapun keputusan yang diambil akan bisa diterima semua pihak dan semua bertanggung jawab melaksanakannya.

Dalam acara sosialisasi tersebut, Bupati Tobasa Darwin Siagian mengatakan kegiatan tersebut untuk kedua kali diselenggarakan di Tobasa setelah kegiatan yang sama diselenggarakan pada 2016 yang dihadiri Wakil Ketua MPR Oesman Sapta.

Menurut dia, untuk Kabupaten Tobasa, khususnya daerah sekitar danau Toba, masalah Empat Pilar tidak ada persoalan karena ada hubungannya dengan adat.

"Maka, di sini segala masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah di atas makanan," katanya.

Darwin juga menggambarkan bagaimana di daerah penghasil pertanian ini merawat keberagaman.

Dia mencontohkan kalau ada kegiatan di gereja, yang melayani adalah umat muslim, begitu kalau umat muslim punya hajatan maka yang melayani umat kristiani.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Yuniardi Ferdinand
Copyright © ANTARA 2019