counter

Hunian dekat stasiun KRL pilihan terbaik bagi pencari properti

Hunian dekat stasiun KRL pilihan terbaik bagi pencari properti

Sejumlah penumpang menaiki rangkaian KRL di Stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (16/8/2018). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Jakarta (ANTARA News) -- Dengan total stasiun kereta rel listrik (KRL) mencapai 79 stasiun di kawasan Jabodetabek, Banten, dan Cikarang dan dengan rata-rata jumlah penumpang mencapai lebih dari satu juta orang per harinya, hunian yang berlokasi di dekat stasiun KRL dinilai menjadi pilihan terbaik bagi para pencari properti.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menjelaskan bahwa harga hunian di tengah kota Jakarta saat ini terus meroket. Sebagai contoh, untuk sebuah unit apartemen tipe studio di kawasan Fatmawati saja banderol harga jualnya sudah mulai dari Rp1,1 miliaran. Angka ini setara dengan harga rumah semi mewah di kawasan pinggiran seperti Tangerang Selatan atau Depok.

“Oleh karena itu hunian baik perumahan ataupun apartemen yang berada dekat stasiun Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi kini menjadi incaran banyak orang karena keunggulannya tadi, harga rumahnya yang lebih terjangkau dan mudah menjangkau Jakarta,” jelasnya.

Ike menjelaskan bahwa dari empat wilayah penyangga DKI Jakarta, yang dilalui jalur KRL yakni Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, kenaikan harga paling pesat terjadi di area Depok. Rumah.com Property Index Depok dari sisi harga yang ditawarkan penjual berada pada titik 113,7 pada kuartal keempat (Q4) 2018. “Indeks ini naik sebesar 7,56% dibandingkan Q3 2018. Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun 2017 (year-on-year/y-o-y), indeks harga properti di Depok mencapai 16,35%,” katanya.

Depok dikenal sebagai kota komuter karena di wilayah ini terdapat setidaknya lima stasiun KRL yang menjadi bagian dari jalur commuter line Bogor menuju Jakarta dan sebaliknya. Transportasi umum commuter line ini sangat praktis karena bebas macet. Sayangnya, perkembangan tata kota Depok yang kurang terstruktur membuat kota ini semakin lama semakin macet, terutama di sekitar area Margonda, yang menjadi jalur penghubung utama menuju Jakarta Selatan. Hal ini membuat indeks harga properti Depok sempat stagnan.

Indeks harga properti Depok kembali menggeliat setelah KCI mengadakan peningkatan kualitas KRL, mulai dari ketepatan waktu hingga kenyamanan. Saat ini setiap stasiun commuter line telah bebas pedagang asongan dengan sistem gerbang peron yang modern. Rangkaian gerbong pun semakin nyaman lewat peremajaan dan penambahan penyejuk udara.

Hal lain yang berdampak makin meningkatnya indeks harga properti Depok adalah pembangunan jalur tol baru seperti Depok-Antasari (Jakarta Selatan) serta Cinere-Serpong (Tangerang Selatan). Kedua tol baru ini menjadi alternatif jalur antarkota selain melalui Margonda.

“Untuk wilayah lainnya, secara y-o-y di Q4 2018, Bogor mengalami kenaikan sebesar 10,98%, Bekasi sebesar 10,19%, sementara Tangerang masih landai, hanya 1,07%. Tangerang relatif landai karena pembangunan infrastruktur transportasi tidak semasif wilayah lainnya. Sementara itu, kenaikan indeks di Bekasi disebabkan oleh pembangunan sarana trasnsportasi Light Rail Transit (LRT) serta sejumlah ruas tol baru, sedangkan Bogor dipengaruhi oleh rencana pembangunan LRT dan dibukanya Tol Bocimi dan Tol Lingkar Luar,” pungkas Ike.


Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar