Pendarahan penyebab tersering kematian ibu

Pendarahan penyebab tersering kematian ibu

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo (Foto Antaranews/Budi Setiawanto)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pita Putih Indonesia Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan pendarahan merupakan penyebab tersering kematian ibu.

"Perdarahan tersebut bisa dialami oleh ibu baik saat sedang hamil, saat persalinan dan dalam masa pemulihan selama 40 hari setelah melahirkan (masa nifas). Berbagai penyebab perdarahan dapat terjadi pada masa kehamilan, saat persalinan maupun masa nifas," ujar Giwo kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan penyebab perdarahan yang dapat terjadi pada masa kehamilan diantaranya keguguran yang disengaja (biasanya dilakukan oleh dukun), minum obat atau ramuan jamu pengguguran kandungan secara sengaja.

Selain itu, keguguran spontan terjadi seperti tidak segera mendapat perawatan oleh tenaga kesehatan, kelainan letak tempat tertanamnya ari-ari pada tempat yang menutupi jalan lahir, lepasnya ari-ari sebelum bayi lahir (solutio plasenta), maupun pertolongan persalinan dilakukan oleh dokter dan di rumah sakit maupun trauma fisik atau akibat tindakan kekerasan pada daerah perut ibu hamil.

Sedangkan penyebab perdarahan pada masa persalinan dapat diakibatkan oleh proses persalinan yang tidak aman ditolong dukun yang tak terlatih, usia ibu terlalu muda ( kurang dari 20 tahun) dan ibu terlalu tua (lebih dari 35 tahun).

Penyebab lain, kondisi fisik ibu bila tidak terjaga, melahirkan anak dengan jarak terlalu dekat, terlalu sering melahirkan, kondisi kesehatan ibu akibat penyakit kronis dan anemia (kurang darah) gizi buruk, gangguan pembekuan darah serta gangguan kelemahan kontraksi otot rahim setelah bayi dan ari-ari lahir.

Penyebab perdarahan pada masa nifas dapat diakibatkan karena minum ramuan obat atau jamu yang tidak aman untuk ibu baik setelah keguguran maupun setelah melahirkan, luka jahitan jalan lahir yang terbuka, pijat daerah perut ke dukun, gizi buruk dan lemahnya kontraksi rahim selama masa pemulihan.

"Berbagai risiko harus dihadapi oleh perempuan di desa terpencil, perempuan dalam masyarakat adat, perempuan penyandang disabilitas, perempuan di pengungsian, juga perempuan dari kelompok minoritas," kata dia.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk melakukan perencanaan kehamilan sehat dengan mengatasi berbagai faktor penyebab maupun faktor risiko terjadinya perdarahan pada saat hamil, melahirkan dan nifas serta memberi dukungan mental dan keterlibatan seluruh anggota keluarga termasuk suami siaga, pendampingan dari suami sebagai orang terdekat yang dapat memberi dukungan selama persalinan dan pengambil keputusan saat darurat

”Keselamatan ibu melahirkan tanggung jawab bersama, Ibu sehat, Indonesia sehat," kata dia lagi.

PPI merupakan afiliasi Pita Putih Internasional atau Global White Ribbon Allince (GWRA) yang mendukung keselamatan dan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas. Saat ini sebanyak 187 negara telah bergabung di dalamnya dan 15 diantaranya telah memiliki sekretariat nasional termasuk Indonesia.

Giwo yang juga Ketua Kowani mengatakan saat ini pertemuan tahunan komisi status perempuan (Commission on the Status of Women, CSW) ke 63 di New York 2019. Selain itu juga mengadakan pertemuan dengan Global White Ribbon Allince (GWRA) yang berpusat di Washington DC.*


Baca juga: Kematian ibu melahirkan di Majene meningkat


 

Pewarta: Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkes: 76 persen kematian ibu saat persalinan dan setelahnya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar