counter

Analis: IHSG berpotensi terus menguat, imbas kebijakan Bank Sentral AS

Analis: IHSG berpotensi terus menguat, imbas kebijakan Bank Sentral AS

Dokumentasi : Karyawan memantau pergerakan IHSG (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww) (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/)

Sentimen dari pasar tersebut diperkirakan dapat mendorong bagi IHSG untuk kembali melaju ke zona hijau pada perdagangan hari ini
Jakarta (ANTARA) - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat berpotensi menguat dipicu sentimen Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed) yang memberi sinyal tidak akan meningkatkan suku bunga pada tahun ini.

IHSG dibuka menguat 16,56 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.499,27. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 4,04 poin atau 0,4 persen menjadi 1.024,43

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Jumat, mengatakan, sentimen perang dagang AS dan China yang masih berlanjut, diperkirakan dapat tereliminasikan oleh sentimen The Fed yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

"Sentimen dari pasar tersebut diperkirakan dapat mendorong bagi IHSG untuk kembali melaju ke zona hijau pada perdagangan hari ini," ujar Alfiansyah.

Menurut dia, pernyataan The Fed yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini, dapat dikatakan suatu pergeseran besar terutama untuk mengakhiri gelombang pengetatan pada bank sentral di Asia dan membuka pintu untuk pelonggaran di masa mendatang.

Menyikapi langkah yang dilakukan The Fed, keputusan Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar enam persen dinilai sebagai keputusan yang tepat.

"Karena pernyataan The Fed dapat membuka peluang penurunan suku bunga di Asia yang kemungkinan akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini yang juga bisa mempengaruhi kebijakan BI," kata Alfiansyah.

Para pembuat kebijakan mengatakan patokan suku bunga Fed Funds Rate, kemungkinan akan tetap pada tingkat saat ini antara 2,25 persen dan 2,5 persen, setidaknya sepanjang tahun ini. Perubahan itu dinilai agresif karena sebelumnya pada September tahun lalu The Fed berencana akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali untuk tahun 2019.

"The Fed juga menegaskan bahwa akan bersabar sebelum menaikkan atau menurunkan suku bunga," ujarnya.

Terkait perang dagang, Presiden Donald Trump mengatakan AS sedang mempertimbangkan akan menahan tarif pada produk China hingga batas waktu yang dianggap substansial. Sebelumnya AS sudah menerapkan bea tarif impor barang China senilai 250 miliar dolar AS.

"Pernyataan Trump ini menandakan belum meredanya perang dagang," kata Alfiansyah.

Bursa regional Asia antara lain Indeks Nikkei melemah 45,83 poin (0,21 persen) ke 21.563,09, Indeks Hang Seng melemah 0,78 poin ke 29.070,78 dan Straits Times menguat 3,38 poin (0,11 persen) ke posisi 3.217,03.

Baca juga: Wall Street berakhir lebih tinggi, saham Apple Inc melonjak

Baca juga: Bursa China dibuka bervariasi, Indeks Komposit Shanghai naik tipis

Baca juga: Tutup kemarin, Indeks Nikkei Bursa Tokyo dibuka menguat 78,99 poin

Baca juga: Bursa Australia menguat, Indeks ASX 200 dibuka naik 28,60 poin

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar