counter

Kekurangan bantuan korban gempa Mataram sudah ditransfer

Kekurangan bantuan korban gempa Mataram sudah ditransfer

Warga korban gempa berada di rumahnya yang dalam tahap penyelesaian pembangunan di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais, Mataram, NTB, Jumat (22/3/2019). Berdasarkan data BPBD NTB progres rehabilitasi dan rekonstruksi untuk rumah rusak berat akibat gempa Lombok yang sudah rampung dibangun sebanyak 1.730 rumah dan yang sedang dalam pembangunan sebanyak 15.212 rumah. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww.

Kemarin PPK BNPB sudah mentransfer kekurangan dana tersebut ke PPK BPBD Mataram dan hari ini disalurkan melalui kelompok masyarakat (pokmas) penerima bantuan
Mataram (ANTARA) - Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Perkotaan (Perkim) Kota Mataram HM Kemal Islam mengatakan, kekurangan dana bantuan bagi korban gempa bumi Mataram untuk kategori rusak sedang dan rusak ringan sebesar Rp5,5 miliar lebih sudah ditransfer.

"Kemarin PPK BNPB sudah mentransfer kekurangan dana tersebut ke PPK BPBD Mataram dan hari ini disalurkan melalui kelompok masyarakat (pokmas) penerima bantuan," katanya kepada wartawan di Mataram, Jumat.

Kemal yang ditemui di sela mendampingi Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh dalam acara kunjungan  Presiden RI Joko Widodo ke korban gempa bumi di Lingkungan Pengempel Indah mengatakan, dengan telah ditransfernya dana bantuan itu maka penyaluran bantuan untuk korban gempa Mataram tahap pertama dianggap selesai.

"Total dana bantuan untuk korban gempa bumi di Mataram sebesar Rp285 miliar, dengan total sasaran 13.437 unit," sebutnya.

Sebanyak 13.437 unit rumah yang rusak akibat gempa bumi 2018, terinci rusak berat 2.396 unit, rusak sedang 2.777 unit dan rusak ringan 8.264 unit yang semua dana bantuan sudah diterima korban dan ada yang baru ditransfer.

Para korban gempa bumi mendapatkan dana bantuan sesuai janji pemerintah yakni Rp50 juta untuk rusak berat, Rp25 juta untuk rusak sedang dan Rp10 juta untuk rusak ringan.

"Jadi untuk dana bantuan sudah tidak ada masalah, kini tinggal kita motivasi para korban mempercepat proses pembangunan hunian tetap (huntap) untuk rusak berat serta renovasi untuk korban rusak sedang dan ringan," katanya.

Apalagi masa tanggap darurat sudah semakin dekat yakni tanggal 12 April 2019, dan akan masuk ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi mulai 13 April sampai 20 September 2019.

Lebih jauh Kemal mengatakan, progres pembangunan huntap bagi korban yang rumahnya rusak berat cukup bagus yaitu dari 1.584 unit rumah rusak berat yang sudah tervalidasi, sebanyak 886 unit sudah terbangun.

"Dari 1.584 unit tersebut, sebanyak 30 persen warga membangun dengan konsep rumah tahan gempa Risha (rumah instan sederhana sehat) dan 30 persen membangun dengan konsep rumah instan konvensional (Riko)," ujarnya.

Kemal menambahkan, setelah dana bantuan tahap pertama ini selesai ditransfer, pemerintah kota kembali mengusulkan bantuan sebesar Rp20 miliar untuk korban gempa bumi yang tidak terdata dalam Surat Keputusan Wali Kota Mataram nomor 1-7.

"Mereka yang tidak terakomodasi ini ada yang rumahnya rusak ringan, sedang dan berat. Mereka tidak terakomodasi karena berbagai alasan," katanya.

Faktor pemicu belum terakomodasinya korban tersebut antara lain memang terlewatkan sebab saat itu pemerintah kota dalam posisi menghadapi bencana, sehingga dapat dimaklumi.

Selain itu, ada saja warga yang berada pada posisi waktu itu mereka tidak yakin mendapat bantuan, dan setelah melihat ada bantuan riil barulah mereka meminta untuk diakomodasi serta alasan-alasan lainnya.  

Baca juga: Mataram usulkan tambahan bantuan korban gempa Rp20 miliar
Baca juga: Pemerintah segera transfer kekurangan bantuan gempa Rp5,5 miliar
Baca juga: Bantuan dana perbaikan rumah korban gempa di Mataram sudah cair

Pewarta: Nirkomala
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar