counter

Menristekdikti : kampus perlu "link and match" dengan industri

Menristekdikti : kampus perlu "link and match" dengan industri

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat menghadiri Dies Natalis Universitas Pasundan di Bandung,Sabtu. (Indriani)

Bandung (ANTARA) - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan perguruan tinggi harus melakukan "link and match" atau keterhubungan dan penyesuaian dengan dunia industri agar lulusan yang dihasilkan terserap industri.

"Saya sering ke Kamar Dagang Indonesia (KADIN), mereka mengeluhkan susahnya mencari tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan mereka," ujar Menristekdikti saat peringatan Dies Natalis Universitas Pasundan di Bandung, Sabtu.

Nasir menjelaskan dunia industri membutuhkan banyak tenaga kerja, akan tetapi lulusan perguruan tinggi banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Dia mengatakan ada perbedaan yang jauh antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.

Untuk menjembatani hal itu, kata dia, pihaknya sudah melakukan berbagai perubahan peraturan. Mulai dari diubahnya peraturan mengenai nomenklatur program studi, sehingga perguruan tinggi bisa menyelenggarakan program studi kekinian.

Kemudian, pihaknya juga mengajak para praktisi untuk mengajar di perguruan tinggi.

Menurut dia, sekarang untuk menjadi dosen tidak lagi harus lulusan pascasarjana, tetapi bisa lulusan diploma atau sarjana yang memiliki kompetensi yang baik di bidangnya. Kompetensi tersebut disetarakan melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

"Sehingga nantinya dengan diajar praktisi yang ahli dibidangnya, maka lulusan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri," katanya.

Dalam kesempatan itu, Menristekdikti juga menyinggung mengenai Revolusi Industri 4.0, yang telah mengubah kehidupan manusia hingga ke tingkat paling dasar. Untuk itu, perlu adanya perubahan cara pandang dalam banyak hal.

Nasir juga meminta mahasiswa untuk menguasai tiga literasi yakni literasi data, literasi teknologi dan literasi bahasa.

Menurut dia, selama ini, data yang banyak tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Begitu juga dengan teknologi yang harus dikuasai. Sementara literasi bahasa perlu dikuasai.

Ia juga meminta agar memasukkan literasi manusia, yang mana berisi dengan nilai-nilai kejujuran dan antikorupsi.
 

Pewarta: Indriani
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kapal cepat tak berawak dari 30 kampus beradu kecanggihan

Komentar