counter

Anak Suku Polahi di pedalaman Gorontalo ingin bisa sekolah

Anak Suku Polahi di pedalaman Gorontalo ingin bisa sekolah

Dua anak suku terasing Polahi belajar permainan dan lagu anak di sungai perbukitan Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Lokasi rumah yang berada di perbukitan di tengah hutan, hidup berpindah-pindah dan jauh dari pemukiman warga membuat anak suku Polahi tidak mendapatkan pendidikan yang layak. (ANTARA/ Adiwinata)

Gorontalo (ANTARA) - Sejumlah anak Suku Polahi yang tinggal di tengah hutan dan perbukitan Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo mengaku sangat ingin merasakan nikmatnya pendidikan dan sekolah seperti layaknya anak pada umumnya.

"Saya sangat ingin belajar apalagi kalau ada yang mau mengajari kami cara menghitung dan menghapal abjad," kata Ela, anak perempuan Suku Polahi saat tim ANTARA di Gorontalo mendatangi permukiman suku Polahi, Sabtu.

Anak yang seharusnya sudah duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) tersebut mengaku sudah bisa menghapal angka mulai dari 1 hingga 10, namun terkadang angka-angka tersebut masih sulit untuk diucapkan  jika angkanya diacak.

Anak suku Polahi lainnya, Moto yang juga kembaran Ela mengatakan ia sangat ingin untuk bisa belajar mengetahui berbagai jenis warna.

"Ada banyak warna di pensil warna, tapi saya baru bisa menyebutkan beberapa warna saja, saya berharap ada yang bisa mengajarkan kami untuk menghafalkan warna-warna tersebut," jelasnya lagi dalam bahasa Gorontalo.

Seorang warga Desa Tamaila, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Soman mengatakan jika suku Polahi yang tinggal di pedalaman itu membutuhkan pendidikan yang layak.

Menurut Soman yang telah berteman lama dengan suku Polahi, jika ada lagi relawan pendidikan lainnya yang ingin datang untuk mendedikasikan dirinya bagi anak-anak Polahi maka ia  siap mengantarnya dengan motor secara gratis.

"Saya rela menembus hutan secara gratis demi mengantarkan guru yang mau mengajar untuk anak-anak Polahi dari pergi hingga pulang," ujarnya.

Kendala untuk tenaga pengajar atau relawan yang ingin menuju lokasi permukiman Polahi yaitu jarak yang jauh dan medan yang cukup berat, karena harus menelusuri jalan setapak di dalam hutan dan melewati sungai dengan berjalan kaki.

Mengumpulkan warga suku Polahi untuk datang ke lokasi pelatihan di desa juga cukup sulit, selain itu masalah dana juga bisa menjadi kendala bagi Tutor karena jarak yang cukup jauh dari ibukota Kabupaten.

Sejumlah relawan sudah ada yang membawakan bantuan buku gambar dan pensil warna dan mengungkapkan bahwa beberapa anak di sana memiliki potensi di bidang seni mewarnai dan menghasilkan gambar burung dengan warna-warni yang cantik.

Salah seorang Tutor di PKBM Hutuo Lestari, Paramita Kinanti yang telah 13 kali mengajar suku Polahi mengatakan jika pelatihan awal yang diberikan adalah memegang pensil, pengenalan buku dan menulis nama hingga mengenal rupiah.

"Awalnya kami memberikan pelatihan di Desa Tamaila, jadi 13 orang warga suku Polahi turun ke desa dan memberikan pelatihan di salah satu rumah warga. Menulis menjadi kendala bagi mereka," ujar Mita yang telah tiga kali memberikan pelatihan ke permukiman Polahi dan 10 kali di rumah warga.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo mengatakan jika pihaknya memfasilitasi pendidikan suku Polahi melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

"Beberapa waktu lalu juga kita pernah membawa salah seorang suku Polahi, untuk diberikan pelatihan," ucapnya.

Baca juga: Mengajar Suku Anak Dalam, Rini raih anugerah peduli pendidikan
Baca juga: Pendidikan generasi muda Suku Kamoro masih memprihatinkan


 

Pewarta: Adiwinata Solihin
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar