counter

Alif Stone Park, pesona pantai berbatu di Natuna

Alif Stone Park, pesona pantai berbatu di Natuna

Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Jakarta (ANTARA) - Berkunjung ke salah satu kepulauan terluar di Indonesia, tidak lengkap jika tidak menikmati keindahan pantainya.

Berburu destinasi wisata di Natuna, Alif Stone Park menjadi salah satu rekomendasi pilihan para pelancong karena letaknya tidak jauh dari pusat kota Ranai. Wisatawan hanya perlu berkendara dengan mobil, di sana tidak ada bus umum atau taksi, sekitar 20 menit menuju Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Jika tidak cermat, wisatawan mungkin akan melewati begitu saja papan penunjuk bertulisan "Alif Stone Park", dari luar, petunjuk nama tersebut terkesan seperti penginapan biasa di tepi pantai.

Begitu memasuki kompleks taman batu tersebut, keindahannya mulai terasa, pengunjung disambut pemandangan ke pantai yang dihiasi bebatuan granit berukuran besar.

Kompleks wisata berkonsep taman batu di pantai itu sebenarnya menawarkan paket lengkap, menginap sambil menikmati keindahan perairan Natuna yang mengarah ke Laut China Selatan, atau kini Laut Natuna Utara.

Tapi, jika pengunjung tidak ingin menginap, mereka bisa masuk ke taman wisata ini dengan memberi donasi sekitar Rp5.000. Taman batu ini dikelola oleh pasangan Ferdizeano dan Rina Sudargo sejak beberapa tahun belakangan.

 
Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)


Alif Stone Park bermula dari sang ayah yang membeli sejumlah lahan di kawasan tersebut pada 2006, lalu empat tahun belakangan mereka menambahkan penginapan alias homestay yang kini total memiliki enam kamar.

Masuk ke kawasan Alif Stone Park sedikit mengingatkan pada serial televisi anak-anak 90an, Flinstone, yang berasal dari zaman batu. Jika menuju tempat liburan biasanya disodori bangunan penginapan yang unik di tepi pantai, untuk masuk ke penginapan maupun pantai Alif Stone Park, pengunjung harus melewati gang kecil yang hanya muat satu orang, diantara bebatuan besar.

Jalan sempit itu menunjukkan arah ke homestay dan ke pantai. Untuk menuju pantai, pengunjung akan melewati homestay.

Sambil melewati jembatan kecil yang dibangun untuk menyambungkan bebatuan, pengunjung dimanjakan sinar matahari sekaligus pemandangan ke laut lepas yang dihiasi bebatuan besar.
 
Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)


Bahkan untuk menuju beberapa tempat, pengunjung harus mau berbasah-basah menyeberangi perairan dangkal untuk dapat melihat bebatuan lainnya, termasuk untuk menuju batu yang berdiri tegak menyerupai huruf hijaiyah Alif, yang menjadi inspirasi nama taman batu tersebut.

Jika tidak ingin berpetualang di antara bebatuan, pengunjung bisa menikmati suara ombak laut dengan duduk-duduk di tempat duduk yang dipasang di batu terbesar, atau, tentu saja berfoto-foto dengan latar Laut Natuna Utara.

Alif Stone Park ini sesuai untuk para wisatawan yang ingin menikmati laut, namun tidak ingin tempat yang terlalu ramai.

Rina Sudargo mengakui memang wisatawan yang secara khusus datang ke tempat mereka untuk berlibur tidak terlalu banyak, kebanyakan pengunjung dalam perjalanan bisnis yang ingin sekaligus berjalan-jalan.

"Biasanya, yang ke sini sedang dinas sekalian liburan," kata dia.

Kamar penginapan Alif Stone Park dirancang untuk menyatu dengan pantai, bahkan salah satu kamar dibangun menyatu dengan bebatuan besar sehingga terkesan alami.

Kamar-kamar tersebut dibangun di rumah panggung, dibangun di atas pasir pantai sehingga terkesan seperti terapung dalam kolam besar jika air pasang.

Untuk menginap di Alif Stone Park, pengunjung perlu merogoh kocek hingga Rp750.000 per malam.
 
Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)


Baru-baru ini, Alif Stone Park menambah fasilitas Wi-Fi di penginapan mereka. Meski pun terdengar sepele bagi wisatawan asal kota besar, Rina mengaku kondisi ini baru terjadi beberapa bulan belakangan. Pertengahan 2018, menurut dia bahkan sinyal internet belum masuk ke sana.

Kabupaten Natuna bisa ditempuh sekitar 1 jam 10 menit dengan pesawat dari Batam atau sekirar 30 jam dengan kapal dari ibukota Tanjung Pinang.

Video
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar