counter

Gunung Bromo masih aman dikunjungi

Gunung Bromo masih aman dikunjungi

Anggota komunitas penggemar sepeda gunung berwisata di gunung Bromo yang sedang mengalami erupsi di Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (23/3/2019). Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan domestik di gunung Bromo sejak bulan Februari 2019 mencapai 35.164 orang sementara wisatawan asing mencapai 758 orang.(ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)

...silakan saja kalau mau wisata ya, asalkan tidak mendekati radius satu kilometer dari kawah...
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani menyatakan kawasan wisata Gunung Bromo masih aman dikunjungi oleh wisatawan.

"Gunung Bromo masih aman, silakan saja kalau mau wisata ya, asalkan tidak mendekati radius satu kilometer dari kawah," kata Kasbani di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Senin.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan sebelumnya mengatakan Gunung Bromo statusnya masih Waspada dan petugas terus memantau perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

Ia mengatakan gunung api dengan tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut itu sempat menimbulkan hujan abu di kawasan Pos Pantau Gunung Api (PPGA) Bromo yang berada di Desa Ngadisari, dan dari kawahnya terdengar suara dentuman.

"Secara kegempaan, jumlah letusan sebanyak lima kali dengan amplitudo 27-34 milimeter dengan durasi 16-46 detik, kemudian tremor terus menerus terekam dengan amplitudo 0,5-31 milimeter, sehingga kesimpulannya status Gunung Bromo masih Waspada atau Level II," tuturnya.

Hendra mengimbau warga dan wisatawan tidak melakukan aktivitas di area dalam radius satu kilometer dari kawah Gunung Bromo.

"Kami imbau warga dan masyarakat juga menggunakan masker saat di luar rumah apabila sewaktu-waktu abu vulkanis melanda sejumlah kawasan di lereng Gunung Bromo," katanya.

Baca juga:
PVMBG: Suara gemuruh terdengar dari kawah Gunung Bromo
Argosari Lumajang diguyur hujan abu vulkanik Gunung Bromo

 

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kebakaran Semeru ancam kehidupan satwa liar

Komentar