counter

Merayakan Demokrasi Indonesia

Kucuran keringat para ibu sukseskan pemilu di Singapura

Oleh Yunianti Jannatun Naim

Kucuran keringat para ibu sukseskan pemilu di Singapura

Ibu-ibu warga negara Indonesia yang menetap di Singapura sibuk membantu proses pemilihan umum yang bakal berlangsung pada 17 April 2019. Mereka merupakan relawan yang direkrut oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri yang berkantor di Kedutaan Besar RI di Singapura. (Yunianti Jannatun Naim)

Alasan yang kedua, memang 'passion' kami untuk bekerja sukarela tinggi. Saya dan teman-teman senang melakukan yang berguna untuk banyak orang.
Batam (ANTARA) - Di ruang bawah tanah kompleks Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, tujuh orang perempuan sibuk menandatangani lembar demi lembar surat suara yang akan digunakan dalam Pemilu 2019 bagi 18.480 orang WNI yang tinggal di negeri jiran itu.

Mereka adalah para relawan pemilu yang bersedia meluangkan waktunya demi kesuksesan pelaksanaan pemilu di Singapura, terutama bagi pemilih yang mencoblos melalui pos.

Sesuai dengan aturan Komisi Pemilihan Umum RI, surat suara yang dikirim melalui pos harus ditandatangani secara basah oleh para relawan yang tergabung dalam Panitia Pemungutan Suara-Pos.

"Satu orang Ketua PPS harus menandatangani 2.000 surat suara," kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri-Pos Panitia Pemilihan Luar Negeri Singapura Suryatmaning Hany.

Penandatanganan kertas suara dilakukan selama sepekan. Setelah itu surat suara dititipkan ke Pos Singapura untuk didistribusikan ke tempat tinggal pemilih yang tidak sempat datang ke KBRI untuk menghadiri Pemilu secara langsung.

Para relawan bekerja dari pagi hingga malam, memastikan seluruh kertas suara yang akan dikirim telah tertandatangani, seperti syarat dari KPU RI.

Penandatanganan kertas suara dilakukan dengan santai, kadang sambil bergurau satu sama lain. Beberapa melakukannya di meja besar, dan sebagian lainnya memilih lesehan di lantai.

Sekilas, mereka tampak seperti ibu rumah tangga biasa. Tapi jangan remehkan, mereka adalah istri dari WNI profesional yang bekerja di Singapura. Ada yang suaminya memiliki dua gelar PhD dan ada pula yang bersuamikan profesor dan mengajar di perguruan tingi top di negara maju itu.

"Suaminya orang-orang hebat ini," kata Hany.

Baca juga: Menanti reuni lima tahunan di Singapura

Meskipun mendapatkan honor, namun Hany memastikan, uang bukanlah motivasi utama mereka menjadi PPS, melainkan pengabdian kepada negara dalam pelaksanaan pesta demokrasi.

"Saya pikir ini siapa lagi kalau bukan kita yang mengerjakan. Alasan yang kedua, memang 'passion' kami untuk bekerja sukarela tinggi. Saya dan teman-teman senang melakukan yang berguna untuk banyak orang," kata dia.

Menandatangani surat suara, hanya satu di antara berbagai tahapan kerja yang harus dikerjakan relawan PPS.

Jauh sebelum kertas suara tiba di Singapura, para panitia harus mendata siapa saja WNI yang akan menggunakan haknya melalui pos, dan siapa saja yang datang langsung ke KBRI pada 14 April 2019.

"Sampai pertengahan Desember, mereka bisa menentukan apakah memilih melalui pos atau datang ke KBRI. Kalau dia memilih pos, kami akan kirimkan kertas suara, dan pada pertengahan Maret surat suara sampa ke alamat mereka," kata dia.

Pekerjaan itu harus dilakukan dengan teliti, memastikan setiap alamat WNI benar dan tiba tepat waktu.

Setelah itu, pemilih akan mengirim kembali kertas suara yang dicoblos ke KBRI.

"Kemudian kami akan memasukkan surat suara itu ke kotak suara menurut tempat pemungutan suara masing-masing. Ada 9 TPS yang sudah dibagi. Dalam kertas sudah tertulis, TPS1 dan sebagainya," kata dia.

Hingga waktu perhitungan suara 17 April 2019, panitia akan membuka kotak suara dan menghitung surat suara yang dianggap laik.

Baca juga: Pemilu; kalau di luar panas, Osing adem ayem

Nasionalisme
Seorang relawan yang direkrut Panitia Pemilihan Luar Negeri Singapura di depan logistik pemilu yang mesti dia bereskan bersama ratusan relawan lainnya. Mereka tampil sebagai relawan bukan karena honor, karena bagi mereka nilai itu tidak seberapa, melainkan rasa nasionalisme. (Yunianti Jannatun Naim)


Menjadi relawan pemilu juga untuk menjaga rasa nasionalisme bagi WNI yang telah lama tinggal di luar negeri.

Di antara ibu-ibu relawan yang sibuk itu, terdapat seorang perempuan muda, Hasna Ufaria Muthi yang baru menginjak 17 tahun pada tahun ini.

Bahasa Indonesia Hasna tidak terlalu bagus. Maklum, sepanjang 12 tahun dalam hidupnya dihabiskan di luar negeri, di antaranya di Australia dan Singapura, mengikuti ayahnya yang kini mengajar di Nanyang Technological University (NTU).

"Saya ikut saja, dari pada tidak ada kerjaan," kata Hasna yang baru saja lulus dari O Level (Ordinary Level/ sekolah persiapan sebelum masuk jenjang Junior College).

Meski mengatakan pekerjaan relawan itu melelahkan, namun ia mengaku senang bisa berpartisipasi dalam Pemilu Indonesia.

Keikutsertaan Hasna dalam aktivitas itu didorong ibundanya, Esti Wulandari. Esti ingin meningkatkan rasa nasionalisme Hasna. Apalagi, mulai tahun ini, Hasna sudah mendapatkan haknya untuk memilih.

Esti yang mengaku kerap menjadi "golongan putih" di setiap pemilu, ingin Hasna menggunakan hak suaranya dengan baik.

"Sekarang setiap pagi, saya menyetel televisi Indonesia, agar dia mengerti," kata Esti yang mengaku selama ini "alergi" terhadap politik.

Dan tahun ini, menjadi yang pertama bagi Hesti ikut serta sebagai relawan PPS bersama putri sulungnya, Hasna.

"Mau membantu pemilu saja, biar lancar," kata dia yang juga menjadi Ketua PPS Pos.

Baca juga: Kompleksitas pemungutan suara di Nusakambangan

400 relawan
 

Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri Singapura David Saragih mengatakan masyarakat Indonesia yang berada di negara itu antusias ingin menjadi relawan pemilu. Dari 370 orang yang dibutuhkan, sudah terdapat 400 orang yang melamar menjadi PPS dan KPPS.

David yang kesehariannya bekerja sebagai Financial Services Consultant AIA Singapura, mengatakan relawan memiliki beragam latar belakang, mulai dari pekerja nonformal, pekerja formal, mahasiswa, ibu rumah tangga hingga profesional.

PPLN Singapura membagi dua petugas relawan, yaitu yang bekerja untuk menyukseskan pelaksanaaan pemilu melalui pos, dan ada juga yang untuk menyelengarakan pemilu secara langsung di KBRI, pada 14 April 2019.

"Sebagian sudah kami ambil, karena KPPS PPLN Pos sudah mulai bekerja. Sedangkan untuk KPPS langsung, kami sedang siapkan bimbingan teknis," kata dia.

Sementara itu, PPLN Singapura mencatat, sebanyak 125.403 WNI yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Sebanyak 18.840 WNI di antaranya memilih melalui pos, dan lebih dari 100.000 lainnya langsung datang ke KBRI.

PPLN menyiapkan 50 tempat pemungutan suara di kompleks KBRI, untuk melayani pemilih dengan sekitar 300 orang PPS.

"Kami telah menyiapkan alurnya, dimulai dari 'scan barcode', sampai menuju TPS, agar lancar," kata dia.

Baca juga: Kepastian memilih dari penghayat Sedulur Sikep
Baca juga: Suara dari Kampung Naga

Oleh Yunianti Jannatun Naim
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar