counter

Walhi minta pemerintah selamatkan hutan mangrove yang rusak di Langkat

Walhi minta pemerintah selamatkan hutan mangrove yang rusak di Langkat

Kawasan ekowisata mangrove Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat, yang semakin hijau. (Foto Antara Sumut/Imam Fauzi)

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) agar segera menertibkan alih fungsi hutan bakau yang dilakukan pengusaha dan dijadikan areal perkebunan sawit dan pertambakan ikan/udang,
Medan (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara minta Pemerintah agar menyelamatkan ratusan hektare hutan mangrove yang rusak di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) agar segera menertibkan alih fungsi hutan bakau yang dilakukan pengusaha dan dijadikan areal perkebunan sawit dan pertambakan ikan/udang," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut, Dana Prima Tarigan, di Medan, Senin.

Kerusakan kawasan hutan bakau tersebut, menurut dia, tidak boleh dibiarkan dan harus ditertibkan.

"Bagi warga yang terus menggarap (mengelola) hutan bakau itu, diberikan sanksi hukum yang tegas, sehingga tidak mengulangi lagi perbuatan melanggar hukum," ujar Dana.

Ia mengatakan, kerusakan hutan mangrove di Secanggang tidak hanya dapat menimbulkan bencana banjir, terjadinya abrasi, tetapi juga menyebabkan bencana tsunami.

Fungsi hutan mangrove tersebut, sangat bermanfaat yang cukup besar jika terjadi tsunami, karena berada di daerah pinggiran pantai.

"Sehubungan dengan itu, hutan bakau di Secanggang tidak boleh lagi dikelola oleh masyarakat," ucap dia.

Dana menyebutkan, hutan bakau di wilayah Pantai Timur Sumatera, juga berfungsi untuk menyelamatkan sumber biota yang terdapat di laut.
Selain itu, juga menciptakan ramah lingkungan dan ikan yang hidup di hutan bakau tersebut merasa aman.

"Pemerintah diharapkan juga mengantisipasi penebangan kayu bakau, untuk dijadikan arang, dan diperjual belikan kepada masyarakat," katanya.

Kerusakan hutan mangrove di Desa Selotong Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, hingga kini diperkirakan mencapai 650 hektare disebabkan alih fungsi yang dilakukan oleh warga menjadi perkebunan sawit dan pertambakan.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wampu dan Sei Ular, Heru Winarto di Secanggang mengatakan lahan hutan mangrove (bakau) yang sudah rusak, dan segera dilakukan penanaman kembali.

Hutan mangrove, menurut dia, memiliki banyak fungsi dan bisa menanahan ombak (abrasi), tempat tumbuh dan berkembang biaknya biota laut seperti ikan, udang, kepiting, serta tempat berlindungnya mamalia lainnya seperti monyet.

Salah seorang warga Selotong, Imran menjelaskan sekarang ini ada upaya untuk perbaikan yang dilakukan dengan menanam kembali di atas lahan seluas dua hektare dengan 2.000 batang pohon mangrove. Selain itu, juga akan ditanam 5.000 batang pohon bibit lainnya yang disumbangkan dari Kemeneterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun swadaya dari relawan, katanya.

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar