counter

Survei: ekonomi AS melambat dua tahun ke depan

Survei: ekonomi AS melambat dua tahun ke depan

Mata uang dolar Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Mayoritas panelis melihat hambatan eksternal dari kebijakan perdagangan dan perlambatan pertumbuhan global sebagai risiko-risiko penurunan utama terhadap pertumbuhan
Washington (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan melambat tajam selama dua tahun ke depan, sebuah survei oleh Asosiasi Nasional Ekonomi Bisnis (National Association of Business Economics/NABE) menunjukkan pada Senin (25/3).

Menurut NABE Outlook Survey Maret 2019, pertumbuhan ekonomi AS, yang diukur dengan produk domestik bruto (PDB) riil, diproyeksikan melambat menjadi 2,4 persen pada 2019 dan semakin melambat menjadi 2,0 persen pada 2020.

Perkiraan untuk pertumbuhan 2018 setahun penuh adalah 2,9 persen, dan survei NABE Desember memproyeksikan bahwa pertumbuhan 2019 akan menjadi 2,7 persen. Survei terbaru, di mana total 55 peramal profesional disurvei, dilakukan antara 22 Februari hingga 7 Maret.

"Panel telah berubah kurang optimis tentang prospek sejak survei sebelumnya, karena tiga perempat responden melihat risiko-risiko miring ke sisi penurunan, dan hanya enam persen yang menganggap risiko-risiko ke sisi kenaikan," kata Presiden NABE Kevin Swift.

Kebijakan perdagangan proteksionis AS terhadap mitra dagang utamanya ditambah dengan laju pertumbuhan yang lambat dari PDB dunia, telah dikutip oleh panelis sebagai alasan utama perlambatan tersebut.

"Mayoritas panelis melihat hambatan eksternal dari kebijakan perdagangan dan perlambatan pertumbuhan global sebagai risiko-risiko penurunan utama terhadap pertumbuhan," kata Ketua Survei Gregory Daco.

Mengingat kebijakan perdagangan AS baru-baru ini dan reaksi negara-negara lain, 72 persen panelis telah menurunkan perkiraan mereka untuk 2019, dengan 58 persen dari mereka menurunkan perkiraan mereka sebesar 0,01 hingg 0,25 poin persentase, dan 13 persen sebesar 0,25 hingga 0,50 poin persentase, survei menemukan.

Para ekonom menempatkan peluang resesi mulai tahun 2019 sekitar 20 persen, dan kemungkinan resesi pada akhir 2020 sebesar 35 persen.

"Sebagian, ini mencerminkan kebijakan putar balik dovish Federal Reserve pada Januari," kata Daco. "Mayoritas panelis mengantisipasi hanya satu kenaikan suku bunga lagi dalam siklus ini dibandingkan dengan tiga kenaikan yang diperkirakan dalam survei Desember."

The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu (20/3), dengan 11 dari 17 pejabat yang berpartisipasi dalam menetapkan kebijakan suku bunga memprediksi tidak ada kenaikan suku bunga sama sekali tahun ini, dan sisanya enam peserta meramalkan antara satu hingga dua kenaikan.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada konferensi pers Rabu (20/3) bahwa peserta Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) "sekarang melihat pertumbuhan 2019 sekitar dua persen, dengan tingkat pengangguran tetap di bawah empat persen," dan tingkat inflasi inti, yang menghilangkan harga pangan dan energi yang fluktuatif , tetap mendekati dua persen.

Namun demikian, pemerintahan Trump menawarkan prospek yang jauh lebih cerah. Dalam Laporan Ekonomi terbaru dari Presiden -- sebuah dokumen yang disusun oleh Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih -- pemerintah memperkirakan output ekonomi riil AS akan berkembang pada tingkat tahunan sebesar tiga persen antara 2018 dan 2029, dengan asumsi bahwa Kongres sepenuhnya menyetujui agenda ekonomi presiden.

Baca juga: Wall Street bervariasi di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar