counter

TB paru penyebab kematian tertinggi

TB paru penyebab kematian tertinggi

Dokter spesialis Paru Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P pada acara bincang sehat bertajuk 'Saatnya Saya Peduli untuk Keluarga Bebas Tuberkulosis (TB)' di RSUI Depok, Selasa. (Megapolitan.antaranews.com/Foto: Feru Lantara)

Gejala TB otak bisa kejang-kejang atau tak sadar seperti stroke yaitu lumpuh sebelah.
Depok (ANTARA) - Penyakit Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyebab kematian tertinggi dibandingkan dengan TB yang menyerang organ tubuh manusia lainnya.

"Untuk penyebab kematian tertinggi kedua adalah TB otak," kata Dokter spesialis Paru Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P dalam paparannya pada acara bincang sehat bertajuk 'Saatnya Saya Peduli untuk Keluarga Bebas Tuberkulosis (TB)' di RSUI Depok, Selasa.

Menurut dia,  mereka yang terserang penyakit TB otak karena daya tahan tubuhnya sudah ekstra turun seperti penderita HIV/AIDS. "Angka pesakitan dan kematian HIV tidak sedikit, jadi ini beririsan dengan TB," katanya.

TB tidak hanya mengenai paru saja tetapi juga organ di luar paru, seperti otak, mata, hidung, gigi, saluran pencernaan, tulang dan lain sebagainya.

"Gejala TB otak bisa kejang-kejang atau tidak sadar seperti stroke yaitu lumpuh sebelah," katanya.

Pada prinsipnya semua harus diobati dengan obat TB, hanya saja untuk di beberapa organ yang mungkin lebih sulit pengobatan di TB paru, jadi masa pengobatannya lebih lama.

Misalnya untuk TB paru minimal  enam bulan, kalau di luar paru kebanyakan sembilan bulan, tetapi rata-rata sampai 12 bulan atau setahun.

Irandi menyatakan, gejala dan tanda TB antara lain adalah batuk lebih dari tiga minggu, demam hilang timbul, berat badan menurun tanpa sebab jelas, keringat malam tanpa aktivitas bermakna, mudah lelah, hingga batuk darah.

TB adalah penyakit menular melalui udara disebabkan oleh Bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sekitar 5-10 persen yang tertular TB akan mengalami sakit TB, terutama pada kelompok risiko tinggi.

RB rentang terhadap perokok, pengguna narkoba, pecandu alkohol, penderita diabetes, penderita gizi buruk, orang sehat dengan imun tubuh yang turun kontak dengan penderita TB, penderita HIV/AIDS, dan lain-lain.

Sementara itu Dr. Astuti Yuni Nursasi, S.Kp., MN mengemukakan, dalam pengobatan penyakit TB keluarga penderita agar aktif dapat mempertahankan suasana rumah yang sehat untuk mengoptimalkan pengobatan dan mencegah penularan TB dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pengobatan dan perawatan TB.

"Keluarga diharapkan dapat mendorong agar pasien berobat teratur dan turut mengawasi agar penderita mengonsumsi obat sampai selesai pengobatan," ujarnya.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Alex Sariwating
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar