counter

MUI: umat Islam kekurangan pengusaha

MUI: umat Islam kekurangan pengusaha

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas di Jakarta, Selasa (26/3/2019) mengatakan orang Islam kekurangan pengusaha sehingga membuat ekonomi umat sulit untuk tumbuh. (ANTARA News/ Anom Prihantoro)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengatakan orang Islam kekurangan pengusaha sehingga membuat ekonomi umat sulit untuk tumbuh.

"Itu yang harus kita isi. Pengusaha ini paling strategis dan bisa menjadi penentu suatu negeri," kata Abbas pada acara Sidang Tahunan Ekonomi Umat di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan umat Islam telah menguasai sembilan dari 10 elite strategis dalam suatu negara, tetapi di sektor pengusaha masih minimalis. Kalangan elite tersebut menentukan corak dan ritme kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengatakan terdapat sembilan elite strategis yang sudah diisi umat Islam. Di antaranya politisi, cendekiawan, profesional, birokrat, pendidik, pekerja sosial, budayawan dan TNI/Polri.

"Hanya satu yang tidak ada di tangan kita yaitu pengusaha. Justru pengusaha ini paling strategis. Dia jadi penentu suatu negeri yang menguasai sumber daya material. Mereka jadi penentu, misalnya orang Yahudi di Amerika Serikat," katanya.

Sementara di Indonesia, dia mengatakan pengusaha juga menjadi penentu corak dan ritme kehidupan keseharian tetapi umat Islam belum banyak yang sukses di bidang itu.

Untuk itu, Anwar mendorong agar umat Islam serius di bidang bisnis sehingga pada masa mendatang akan semakin banyak pengusaha Muslim yang peduli terhadap ekonomi umat.

Salah satu solusi untuk memunculkan pengusaha Muslim, Anwar yang juga seorang dosen mendesak dunia pendidikan di Indonesia agar tidak berorientasi memunculkan para lulusan siap kerja. Akan tetapi, lulusan pendidikan itu harus bisa menjadi pebisnis.

Upaya dunia pendidikan tersebut, kata dia, harus melakukan inovasi agar kurikulumnya berbasis "link and match" yaitu menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Menurut dia, pendidikan di sekolah dan kampus memiliki kurikulum yang tertinggal dengan pasar yang pergerakannya lebih cepat. Ilmu di dunia pendidikan cenderung mengkaji ilmu-ilmu yang telah usang. Dengan kata lain, kurikulum selalu tertinggal pasar yang penuh inovasi.

"Maka anak didik harus diberi materi tidak hanya teori tapi praktik yang sesuai dengan kondisi terkini," kata dia.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar