counter

ASITA khawatir mahalnya tiket pesawat bisa matikan pariwisata di Aceh

ASITA khawatir mahalnya tiket pesawat bisa matikan pariwisata di Aceh

Peserta berupaya melewati tanjakan saat mengikuti Trail Adventure Raon One Day II 2019 di kawsan pegunungan Mata Ie, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (23/3/2019). Trail Adventure Raon One Day II 2019 yang digelar untuk mempromosi wisata alam di Banda Aceh dan pegunungan Aceh Besar diikuti 400 rider dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Jogjakarta dan Jawa Tengah. (Antara Aceh/Irwansyah Putra)

Orang menjadi malas liburan ke Aceh, akibat tiket pesawat mahal terutama wisnus (wisatawan nusantara)
Banda Aceh (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Aceh mengaku khawatir dengan mahalnya tiket pesawat, khususnya rute domestik, bisa mematikan industri sektor pariwisata setempat akibat berkurangnya tingkat kunjungan ke provinsi berjuluk "Serambi Mekkah" sepanjang tahun ini.

"Orang menjadi malas liburan ke Aceh, akibat tiket pesawat mahal terutama wisnus (wisatawan nusantara)," kata Sekretaris ASITA Aceh, Totok Julianto di Banda Aceh, Kamis.

Dalam tiga bulan terakhir di tahun ini, lanjut dia, harga tiket pesawat rute domestik, seperti jarak terdekat penerbangan Medan-Banda Aceh rerata dijual seharga Rp800.000 per orang dari sebelumnya dikisaran Rp350 ribu per penumpang.

Belum lagi perusahaan biro perjalanan baik di daerah asal atau tujuan di Aceh, harus pandai mencari keuntungan dengan menjual harga paket perjalanan wisata. Kenaikan tiket pesawat domestik, maka otomatis paket wisata ditawarkan ke wisnus juga mengalami kenaikan cukup signifikan.

Ia mengatakan, selama ini para pengelola perjalanan wisata di Banda Aceh atau Sabang, Aceh, lebih cenderung menyasar wisatawan domestik, karena murahnya biaya perjalanan menggunakan moda transportasi udara ke "Serambi Mekkah".

"Saat ini untuk tiket pesawat Medan-Banda Aceh saja pp (pulang pergi) sudah Rp1,6 juta satu orang. Belum lagi mereka anggota keluarganya. Di Medan pun, cuma dijadikan tempat transit. Yang jelas, jika tiket pesawat tak diturunkan, maka pengunjung wisatawan domestik pasti jauh berkurang," kata dia.

Ia mengklaim, kondisi wisatawan nusantara, seperti berasal dari Pulau Jawa dewasa ini lebih memilih paket tur ke luar negeri dibanding melakukan perjalanan ke dalam negeri, terutama provinsi yang menerapkan Syariat Islam tersebut.

"Kuncinya, ada di pemerintah sebagai regulator maskapai. Satu sisi Kementerian Pariwisata saat ini gencar melakukan promosi untuk meningkatkan kunjungan wisman (wisatawan asing) dan wisnus. Di sisi lain, kebijakan maskapai kontra produktif dan mengancam usaha kami," tegas Totok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin sebelumnya pada tahun ini menyatakan, pihaknya menargetkan angka kunjungan wisman pada 2019 mencapai 150.000 orang, dan wisnus tiga juta orang.

Ia mengatakan, pada 2018 kunjungan turis asing ke Aceh telah melampaui target dengan angka 106.000 orang, sementara wisatawan domestik dua juta orang lebih.

"Tahun 2018, wisatawan nusantara mencapai 2.391.968 orang, dan wisatawan mancanegara mencapai 106.281. Tahun ini, kita prediksi bakal meningkat lagi," katanya.
 

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sepuluh “Bali baru” dukung pariwisata Bali

Komentar