20.000 penderita TBC di Riau belum jalani pengobatan

20.000 penderita TBC di Riau belum jalani pengobatan

Dua pasien terjangkit penyakit TBC menutup mulutnya dengan masker

Pekanbaru (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi Riau menyatakan, sedikitnya 20 ribu warga di daerah itu yang mengidap tuberkolosis atau TBC, belum menjalani pengobatan sehingga potensi penularan ke orang lain sangat tinggi.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Riau, M. Ridwan, di Pekanbaru, Jumat, mengatakan terdapat 31.190 kasus TBC di seluruh provinsi Riau pada 2018. Namun, pasien yang ditemukan dan diobati sesuai standar baru mencapai 11.124 orang.

Mereka termasuk kasus TBC anak yang dtemukan 1.240 kasus, serta kasus TBC Resisten Obat mencapai 70 kasus, dan yang mau memulai pengobatan hanya 24 pasien.

Menurut dia, fakta tersebut sangat mengkhawatirkan karena satu orang penderita TBC berpotensi menularkan ke 10 orang di sekitarnya. Penularan penyakit itu sangat mudah terjadi lewat perantara udara.

“Sisanya sekitar 20 ribu orang yang melayang, beredar di antara kita, dan kita tidak mengetahui mereka penderita TBC atau tidak. Kalau ini dibiarkan, dikali 10 yang berpotensi tertular, maka bisa ada 200 ribu penderita baru,” katanya.

Karena itu, setiap warga yang sudah mengalami batuk terus menerus selama sekitar 20 hari, lebih baik mendatangi tempat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Pemerintah Indonesia menjamin semua pengobatan penderita TBC.

“Obatnya gratis, cuman lama. Selama enam bulan diminum setiap hari. Karena pengobatan lama, sering terjadi putus obat entah karena lupa, malas atau efek sampingnya berat tergantung kondisi badannya. Kalau dibiarkan bisa terjadi TBC resisten obat, akan makin lama pengobatannya,” kata Ridwan.

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada 24 Maret setiap tahun, dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC hingga kini masih menjadi epidemi di dunia. Peringatan hari TB Sedunia 2019 dilaksanakan dengan kegiatan deteksi dini pencegahan penularan TBC di keluarga dan tempat khusus, yaitu pada lingkungan yang mudah terjadi penularan TBC karena dihuni banyak orang.

Lokasi tersebut di antaranya adalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Rutan dan pesantren.

TBC masih merupakan satu dari 10 penyebab kematian dan penyebab utama agen infeksius. Diperkirakan terdapat 10 juta kasus TBC baru setara 133 kasus per 100.000 penduduk di dunia.

“Indonesia menempati peringkat ketiga penyakit tuberkulosis terbanyak setelah China dan India,” katanya.

Pemeriksaan awal tuberkulosis yang diketahui lebih dini menjadi hal yang penting untuk dapat mencegah penularan dan dapat diobati lebih lanjut, pemeriksaan dan pengobatan TBC.

 

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Alex Sariwating
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar