Pemerintah NTT diminta bangun rumah kemasan makanan

Pemerintah NTT diminta bangun rumah kemasan makanan

Pelaku usaha makanan lokal di NTT kesulitan meningkatkan hasil produksi karena kesulitan mendapatkan kemasan untuk berbagai anek makanan lokal khas NTT. (AntaranewsNTT/Benny Jahang)

Kupang (ANTARA) - Pelaku usaha kecil dan menengak (UKM) di Kota Kupang meminta pemerintah Nusa Tenggara Timur membangun rumah produksi dan desain kemasan aneka produk jajanan guna meningkatkan kualitas hasil produksi yang berdaya saing di pasaran.

"Kami kesulitan untuk mendapakan kemasan aneka produk jajanan yang murah karena kemasan yang didatangkan dari Surabaya harganya cukup mahal sehingga berdampak pada produksi yang terbatas," kata pimpian UKM Setia Kawan, Dortia Mbura Waker ketika ditemui Antara di Kupang, Sabtu.

Ia mengatakan, apabila NTT memiliki rumah produksi kemasan makanan yang berbasis di Kupang akan memotifasi pelaku usaha kecil dan menegah (UKM) di provinsi berbasis kepulauan ini untuk meningkatkan hasil produksi lebih berkualitas.

Menurut dia, para pelaku usaha di Kota Kupang mendatangkan kemasan makanan dari Surabaya dengan harga yang cukup mahal.

Satu kemasan makanan untuk ukuran 200 gram dibeli di Surabaya dengan harga Rp500 padahal apabila rumah kemasan makanan dibangun di NTT harganya lebih murah dan biaya produksi menjadi lebih kecil.

"Dalam kegiatan pelatihan yang berlangsung tahun 2011 para pelaku usaha UKM pernah mengusulkan kepada pemerintah NTT. Pada pelatihan 2017 juga diusulkan lagi namun sampai sekarang belum ada realisasinya," kata Wake.

Ia berharap dalam kepemimpinan Wali Kota Kupang, Jefrison Riwu Kore serta Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dapat merealisasikan pembangunan rumah kemasan berbagai aneka produk makanan lokal khas NTT itu.

Wake mengatakan, apabila rumah aneka kemasan dibangun NTT maka para pelaku usaha akan lebih bergairah dalam mengembangkan pasar untuk memasarkan hasil produksi jajanan lokal NTT.

Pewarta: Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

"New normal", ini aturan Kemenag soal pembukaan kembali rumah ibadah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar