Pencari kerja Sumbar masih sulit tembus proses magang ke Jepang

Pencari kerja Sumbar masih sulit tembus proses magang ke Jepang

Calon peserta magang ke Jepang bersama Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. Sebanyak 200 orang mengikuti seleksi selama lima hari itu. (ANTARA SUMBAR/Ist)

Pengalaman dan pendapatan selama magang bisa menjadi modal untuk mengembangkan potensi saat kembali ke Sumbar. Daya saing sebagai pencari kerja akan lebih tinggi dengan adanya pengalaman magang luar negeri itu,
Padang (ANTARA) - Kemampuan pencari kerja di Sumatera Barat (Sumbar) masih belum maksimal sehingga sulit memenuhi standar nilai yang ditetapkan oleh tim pusat untuk bisa diberangkatkan magang ke Jepang.

"Ada serangkaian proses yang harus dilalui oleh calon peserta. Yang diberangkatkan adalah mereka yang dinilai memenuhi standar," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumbar, Nazrizal di Padang, Senin.

Ia menambahkan itu saat pembukaan seleksi calon peserta seleksi magang ke Jepang di Padang.

Menurutnya kesempatan kerja sambil berlatih melalui program magang ke Jepang sangat potensial dan menjanjikan bagi pencari kerja Sumbar, bila dibandingkan dengan kesempatan kerja di Indonesia atau negara tetangga.

Pengalaman dan pendapatan selama magang bisa menjadi modal untuk mengembangkan potensi saat kembali ke Sumbar. Daya saing sebagai pencari kerja akan lebih tinggi dengan adanya pengalaman magang luar negeri itu.

Bahkan mungkin selama proses magang bisa membuka pikiran hingga menciptakan lapangan kerja sendiri.

Sayangnya, sebagian calon peserta yang mendaftar ternyata tidak menyiapkan diri menguasai materi-materi pada tahapan proses seleksi. Akibatnya banyak yang gagal dalam seleksi.

"Untuk itu kami melaksanakan pelatihan pra-seleksi di daerah dalam rangka menyiapkan kemampuan calon peserta untuk mengikuti seluruh materi seleksi magang ke Jepang," ujarnya.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit menegaskan selain kompetensi, calon peserta magang harus benar-benar bebas dari narkoba dan perilaku menuimpang seperti LBGT.

"Program magang di Jepang adalah kesempatan emas. Harus ditangani dengan serius. jangan sampai ada calon yang kecanduan dengan narkoba dan penyimpangan sexual seperti LGBT, karena bisa merusak nama bangsa," jelasnya.

Program pemagangan ke Jepang itu juga bisa menjadi solusi dalam memberikan kesempatan kepada pencari kerja untuk meningkatkan keterampilan sehingga dapat bersaing memasuki pasar kerja.

Apalagi peserta untuk program magang tersebut tidak dibatasi jumlahnya asalkan melalui mekanisme yang telah diatur sehingga akan sangat positif jika bisa dimanfaatkan.

Seleksi magang ke Jepang di Sumbar digelar 1 hingga 5 April 2019 di aula Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi provinsi Sumbar dengan 200 orang peserta.

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar