counter

Wakasad: Menjaga Perbatasan Negara Adalah Kehormatan

Wakasad: Menjaga Perbatasan Negara Adalah Kehormatan

Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Tatang Sulaiman menyerahkan bingkisan untuk para prajurit Yonif 144 Jaya Yudha di Poskotis Pengamanan Perbatasan di Kampung Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, pekan lalu. (istimewa)

Balikpapan (ANTARA) - Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tatang Sulaiman mengunjungi Pos Kotis Satgas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia-Malaysia akhir pekan lalu. Menjaga perbatasan negara adalah kehormatan, tegasnya.

“Kalian memberikan rasa aman, menjamin keamanan, dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Wakasad di depan puluhan prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 144 Jaya Yudha di Kampung Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu.

Keberadaan pasukan di perbatasan jelas memberi deterrent effect atau rasa segan, hingga takut, dari pihak-pihak yang berniat tidak baik.

"Jadi terimakasih kepada kamu semua atas dedikasinya selama melaksanakan tugas menjaga perbatasan dengan penuh dengan semangat,” kata Wakasad.

Yonif 144 Jaya Yudha adalah kesatuan organik Kodam II Sriwijaya yang markasnya ada di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Sebanyak 450 prajurit dari Bengkulu ini akan bertugas hingga akhir April 2019, mencukupi 9 bulan masa tugas mereka sejak Juli 2018.

Tugas prajurit di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan adalah menjaga patok batas negara tetap pada posisinya dan mencegah semua yang ilegal, diantaranya adalah ilegal logging atau pembalakan atau penebangan kayu liar, mencegah penyelundupan orang dan narkoba, termasuk juga minuman keras.

“Karena itu patroli penting. Ada hal-hal yang mencurigakan, segera laporkan ke komando atas,” kata Wakasad. Komando atas adalah istilah tentara untuk atasan, di mana prajurit mendapatkan perintah untuk mengerjakan tugas.

Keberadaan pos-pos perbatasan yang terpencil juga menjadi perhatian Wakasad. Ia mendengarkan laporan prajurit tentang kesulitan pasokan logistik sebab keterbatasan angkutan udara. Termasuk juga kesulitan menanam sayuran karena kondisi tanah sekitar pos yang sulit diolah.

“Semua jadi perhatian pimpinan,” tegas Wakasad Letjen Tatang Sulaiman.

Sebagian pos pengamanan perbatasan memang berada di medan yang luar biasa ekstrem. Selain berada di tengah rimba belantara, pos juga ada di punggung-punggung gunung. Untuk pos seperti itu, logistik hanya bisa didrop di tempat yang bisa dicapai angkutan udara dengan aman, baru kemudian diangkut personel pos dengan jalan kaki.

Karena itu, sebagian personel pos, terutama yang punya keterampilan pertanian, biasanya lalu mengolah tanah di sekitar pos dan menanam cabai atau tanaman bumbu-bumbu lain. Sesekali bila memungkinkan mereka berburu atau memancing.

Sebagian pos juga dekat kampung. Untuk personel pos seperti ini Wakasad memberi perintah yang sesuai.

“Tetap pelihara hubungan baik dan kerja sama dengan masyarakat, Polri, Pemda, dan instansi lainnya yang bertugas di wilayah perbatasan. Jika ada masalah selesaikan dengan baik secara prosedural,” tegasnya. Secara berulang juga Wakasad menegaskan agar prajurit menjaga kehormatan diri dan kesatuan.

Menurut Wakasad Tatang, menghadirkan hal-hal positif dan baik kepada masyarakat adalah satu tugas TNI. Itulah wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Prajurit lahir dari rahim rakyat, bantulah selalu kesulitan yang dihadapi masyarakat,” demikian Wakasad.

Pewarta: Novi Abdi
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar