counter

Koster ingin ada standar kualitas bangunan "pelinggih" di Pura Besakih

Koster ingin ada standar kualitas bangunan "pelinggih" di Pura Besakih

Gubernur Bali Wayan Koster saat menyampaikan kuliah umum, di Kampus ISI Denpasar (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/lhs/2019)

Harus betul-betul ditata sesuai dengan warisan leluhur
Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster menginginkan ada standar yang sama terkait kualitas bangunan maupun material pembuatan "pelinggih" atau bangunan suci di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.

"Sekarang ini standar pelinggihnya berbeda-beda karena pelinggih yang ini yang 'ngemong' (bertanggung jawab-red)) Pemerintah Kabupaten Badung, yang lainnya lagi Kabupaten Bangli, Buleleng dan sebagainya. Kebetulan keuangannya beda-beda, sehingga menyebabkan ada yang kualitasnya bagus, ada biasa-biasa saja, ada yang berwarna hitam, putih dan sebagainya," kata Koster saat menyampaikan kuliah umum, di Kampus ISI Denpasar, Jumat.

Oleh karena itu, ke depannya dia mengharapkan adanya konsep yang sama terkait material pembuatan pelinggih-pelinggih di Pura Besakih.

"Pendanaannya boleh dari masing-masing kabupaten. Tetapi konsep harus diberikan dalam satu kesatuan," ujar Koster saat menyampaikan kuliah umum bertajuk Nangun Sat Kerthi Loka Bali Untuk Pemajuan Seni dan Budaya itu.

Koster menambahkan, jika ada bangunan suci di Pura Besakih yang rusak, diminta segera diperbaiki dan kalau pemerintah kabupaten/kota tidak sanggup untuk pendanaannya, dapat meminta bantuan ke pemerintah provinsi.

"Pura Besakih harus mencerminkan satu kesatuan komponen masyarakat Bali. Tidak boleh memakai pendekatan feodal di sana. Harus sama untuk semua masyarakat Bali," ucapnya.

Di sisi lain, Koster mengharapkan "upakara" atau sesajen yang dipersembahkan di pura terbesar di Bali itu dijalankan sesuai dengan pakem-pakemnya yang terdapat dalam lontar.

"Harus betul-betul ditata sesuai dengan warisan leluhur," kata orang nomor satu di Bali itu.

Koster menegaskan pihaknya ingin menjaga kesakralan Pura Besakih, bahkan dirancang penataaan agar wisatawan ke depannya tidak bebas masuk ke areal pura.

"Akan disiapkan juga semacam bioskop sebagai tempat untuk menyaksikan sejarah dan bangunan-bangunan suci di Pura Besakih. Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung, hanya dapat diakses melalui titik-titik tertentu," ujarnya sembari mengatakan akan menata pula akses jalan, parkir dan pedagang di Pura Besakih.

Baca juga: Wisatawan tetap kunjungi kawasan Pura Besakih
Baca juga: Pemkot Denpasar laksanakan "Bakti Penganyar" Pura Agung Besakih

 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar