Ahli cuaca dan oseanografi perkuat deteksi banjir pesisir

Ahli cuaca dan oseanografi perkuat deteksi banjir pesisir

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati (kiri) di sela kegiatan "The 10th Sessions of JCOMM Observation Coordination Group (OGC-10)" di Jakarta, Senin (8/4/2019). (ANTARA News/ Anom Prihantoro)

Ada gabungan ahli cuaca maritim dan oseanografi agar kita dapat melakukan observasi yang lebih memadai
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah ahli cuaca maritim dan oseanografi lintas negara berupaya memperkuat pendeteksian gelombang laut yang dapat memicu banjir pesisir atau rob.

Penguatan itu dilakukan lewat pertemuan ahli lintas disiplin dari mancanegara dalam rangkaian "The 10th Sessions of JCOMM Observation Coordination Group (OGC-10)" dan lokakarya observasi kemaritiman di Gedung Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Senin.

"Dengan kegiatan ini maka observasi layanan maritim akan lebih ditingkatkan karena ahli interdisiplin tadi. Ada gabungan ahli cuaca maritim dan oseanografi agar kita dapat melakukan observasi yang lebih memadai," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Dia mengatakan penguatan deteksi gelombang laut itu merupakan salah upaya yang ditelurkan OGC-10. Intinya, para ahli cuaca maritim dan oseanografi itu saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait cuaca kelautan.

Lebih lanjut, kata dia, pertemuan tidak hanya membahas mengenai riset dan keilmuan tetapi juga penerapan teknologi "Indonesia Coastal Inundation Forecasting Sistem" (Ina-CIFS). Inovasi tersebut merupakan sistem mentoring peringatan dini banjir pesisir dengan pendampingan dari Organisasi Cuaca Dunia (World Meteorology Organization/ WMO).

Ina-CIFS, kata dia, akan mulai beroperasi mulai April 2019 dan diterapkan di Jakarta dan Semarang sebagai daerah percontohan karena kerap terdampak besar akibat banjir rob.

"BMKG akan memperluas cakupan di seluruh wilayah pesisir Indonesia yang berpotensi terdampak," kata dia.

Dwikorita mengatakan para ahli interdisiplin juga membahas soal sistem deteksi cuaca kelautan yang lebih akurat terhadap tsunami, gelombang laut dan hal terkait lainnya.

"Misalnya permodelan prediksi tinggi gelombang kecepatan arus, prakiraan pasang surut, yang merupakan integrasi dari disiplin ilmu meteorologi maritim dan oseanografi. Bahkan kita melangkah pada prakiraan dan prediksi tentang tsunami, ada bidangnya geofisika juga," kata dia.

Baca juga: BMKG akan selenggarakan workshop CIFDP-1 pantau banjir pesisir

Baca juga: BMKG nyatakan banjir Rob dipengaruhi gravitasi bulan

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BMKG dan NOAA lakukan Ekspedisi Indonesia Prima

Komentar