Pengusaha Indonesia disarankan gali potensi perdagangan Ethiopia

Pengusaha Indonesia disarankan gali potensi perdagangan Ethiopia

Al Busyra Basnur, Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan African Union (kedua dari kanan), bersama, antara lain, Zerihun Degu (Pastor), Sekretaris Jenderal Inter-Religious Council of Ethiopia (IRCE), dan Hulluf Weldsilassie, Deputi Sekretaris Jenderal IRCE, di Addis Ababa, Ethiopia pada 1 April 2019. (foto: Kedubes RI di Addis Ababa).

Jakarta (ANTARA) - Para pengusaha Indonesia disarankan untuk melihat secara langsung potensi kerja sama ekonomi dan perdagangan yang dimiliki Ethiopia untuk mengubah persepsi mereka, yang mungkin tidak tepat, kata para pengusaha Indonesia. 

Kalangan pengusaha menganggap negara itu justru kini terbukti telah mendatangkan keuntungan ekspor bagi perusahaan Indonesia. 

Saran itu disampaikan Rudi Dharmawan dan Adrianto Yuliar Salam dari PT Indofood Ethiopia (Salim Wazaran Yahya Plc) kepada Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika Al Busyra Basnur saat Dubes berkunjung ke pabrik Indomie PT Indofood, yang terletak sekitar 30 km selatan Kota Addis Ababa, Senin (8/4).

Adrianto, deputy general manager PT Indofood Ethiopia yang sudah 15 tahun malang melintang berbisnis dan tinggal di Ethiopia, mengatakan bahwa semula ia juga memiliki persepsi yang sama dengan banyak orang tentang Ethiopia.

"Tahun 2003, ketika saya ditugaskan oleh perusahaan saya, sebenarnya saya tidak mau datang ke Ethiopia untuk berbisnis. Namun setelah saya pertimbangkan, maka lebih baik saya datang untuk melihat. Jika saya tidak suka, maka saya akan angkat kaki dari Ethiopia", kata Adrianto mengenang masa-masa awal ia melakukan bisnis di Ethiopia.

Seperti terungkap dalam pernyataan pers KBRI Addis Ababa yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, dahulu, Ethiopia sering dinilai banyak orang sebagai negara miskin, banyak kelaparan, tidak aman dan terbelakang, sehingga tidak menarik untuk kegiatan bisnis, seperti investasi dan perdagangan.

Namun apabila datang ke dan melihat langsung di Ethiopia, orang akan segera sadar bahwa Ethiopia kini adalah negara yang memiliki potensi sangat besar untuk hubungan dan kerja sama ekonomi. Karena itu, pengusaha Indonesia disarankan melihat langsung potensi kerja sama ekonomi dengan Ethiopia, demikian bunyi siaran pers tersebut. 

Terkait dengan potensi keuntungan yang diperoleh dari kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara itu, Rudi Dharmawan, general manager PT Indofood Ethiopia, mengatakan sekitar 30 persen bahan baku pembuatan Indomie diimpor dari Indonesia, seperti bumbu, minyak goreng, dan bungkus mie instan.

PT Indofood mulai memperdagangkan produknya di Ethiopia sejak awal 2005. Pada 2014, perusahaan itu mulai mendirikan pabrik di atas tanah seluas 12.000 meter persegi dan beroperasi secara penuh pada pertengahan 2015. Saat ini, PT Indofood memproduksi 80 juta bungkus Indomie setahun. Produksi akan terus ditingkatkan, katanya.

Sementara itu, Al Busyra Basnur mengatakan bahwa saat ini terdapat lima perusahaan Indonesia yang menanamkan investasi di Ethiopia, yaitu PT. Indofood, PT. Sinar Ancol, PT. Bukit Perak, PT. Sumber Bintang Rejeki dan Busana Apparels Group.

"Investasi Indonesia di Ethiopia memberi keuntungan bagi Indonesia antara lain peningkatan ekspor barang dan bahan baku dari Indonesia, penyerapan tenaga kerja Indonesia, peningkatan remittance ke Indonesia serta keuntungan bagi parent dan partner companies (perusahaan-perusahaan induk dan mitra) di Indonesia," katanya.

Bahkan, banyak bahan bangunan kantor dan pabrik Indonesia di Ethiopia yang didatangkan langsung dari Indonesia, kata Dubes.


Baca juga: Direktur Amani Africa: Ethiopia perlu belajar dari demokrasi Indonesia
Baca juga: Wartawan Ethiopia ingin tukar pengalaman dengan media di Indonesia

Pewarta: Rahmad Nasution
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah Saber, pengungsi Ethiopia yang kuliah di Italia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar