counter

Debat Capres

Kedua capres perlu buat kebijakan investasi yang saling menguntungkan

Kedua capres perlu buat kebijakan investasi yang saling menguntungkan

ilustrasi: Mata uang dolar AS (FOTO.ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Pakar ekonomi Hisar Sirait menyarankan kepada kedua calon presiden (capres) agar menciptakan kebijakan yang saling menguntungkan atau "win-win solution" terkait investasi asing.

"Saya melihat begini, kedua capres harus mampu memberikan kepada kita kebijakan yang memberikan win-win solution atau solusi saling menguntungkan, bukan hanya kepada kita sebagai penerima investasi asing namun juga kepada negara-negara yang berperan sebagai investor," tutur Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie itu kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan bahwa kebijakan-kebijakan utama yang harus dibuat oleh pemerintah terkait investasi janganlah kebijakan yang bersifat populis, dan investasi ini haruslah investasi yang menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan untuk ke depannya. Artinya pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

"Maka dari itu harus ada tiga hal yang perlu diperhatikan, pertama ialah setiap investor asing yang datang ke indonesia itu mestinya kedua capres harus berani bilang perlu ada jaminan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi atau transfer of knowledge," kata Hisar Sirait.

Kalau mereka tidak mau menjamin hal itu, menurut akademisi itu, maka bolehlah pemerintah Indonesia melakukan sedikit restriksi atau pembatasan kepada investor tersebut.

"Kedua adalah harus menciptakan yang namanya efek ganda atau multiplier effect terutama pada daya serap tenaga kerja. Jadi memang pada jangka pendek, kita boleh menggunakan tenaga kerja asing sepanjang hal tersebut di bidang-bidang yang kita tidak mampu menguasainya. Artinya pada bidang-bidang keahlian tertentu dimana tenaga kerja domestik memiliki keahlian dalam bidang tersebut boleh diisi tenaga kerja asing. namun hal ini juga harus diberikan tenggat atau batas waktu, jadi tidak bisa selama-lamanya juga," katanya.

Seiring dengan adanya transfer of knowledge, manajemen dan teknologi, ini harus diimbangi juga dengan kemajuan tentang kepemilikan skill bagi tenaga kerja domestik.

"Ketiga adalah adanya kewajiban mereka untuk menggunakan konten lokal, tetapi konten lokal disini pun bukan konten lokal yang sifatnya untuk memanfaatkan biaya bahan baku murah. Namun untuk memastikan konten lokal tersebut akan memanfaatkan yang kita sebut dengan kearifan lokal," ujar Hisar.

Dia mencontohkan bahwa saat kita berinvestasi di daerah A maka kita harus memanfaatkan konten lokal di daerah tersebut, jangan juga bahan bakunya masih harus mengambil dari daerah B. Jadi harus berbasis lokal di tempat berinvestasi.

"Tiga hal ini merupakan esensi dasar yang perlu diperhatikan kalau kita berbicara mengenai investasi," ujar Hisar Sirait.

Pakar ekonomi itu juga menambahkan bahwa investor asing menanamkan investasinya ke suatu negara, karena mereka melihat adanya peluang pasar di negara tersebut.

"Ketika mereka melihat di negara itu ada peluang pasar maka mereka akan datang, di samping mereka merasa bahwa mendekatkan titik produksi di negara mereka dengan negara konsumsi tujuan investasi mereka ini diimbangi juga dengan ketersediaan bahan baku. Hal itu sebetulnya filosofi dasar orang berinvestasi," tuturnya.

Tema investasi merupakan salah satu tema yang akan dibahas dalam debat kelima sekaligus terakhir pemilu presiden 2019 pada 13 April nanti, bersama dengan tema-tema seperti ekonomi dan kesejahteraan, keuangan dan industri.

Baca juga: Kebijakan Satu Peta dinilai buat iklim investasi lebih baik

Baca juga: Menkeu: stabilitas kebijakan publik berikan kepastian investasi

Korsel bangun pabrik petrokimia terbesar kedua di Indonesia

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar