counter

Usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat

Usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek saat pemaparan pada Rakerda Dinkes Sumsel di Palembang, Jumat (12/4). (Antara/Aziz Munajar)

Palembang (ANTARA) - Usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat, seiring perbaikan layanan kesehatan yang menyentuh di seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Kesehatan Nila F. Moelek di Palembang, Jumat, mengatakan usia rata-rata harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini 71 tahun, usia angka harapan hidup perempuan Indonesia 74 tahun dan laki-laki 69 tahun.

"Usia harapan hidup laki-laki memang lebih pendek, mungkin faktor pola hidup kesehatanya," ujar Nila F. Moeloek.

Menurutnya, perbaikan layanan kesehatan berhasil menyentuh lapisan masyarakat terbawah, salah satunya karena semakin mudahnya masyarakat mendapat akses biaya yang terjangkau, baik melalui pembiayaan BPJS maupun asuransi lain.

Kemudahan akses tersebut ditopang berbagai program pemerintah pusat, seperti Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dan ribuan program inovasi berbagai daerah di Indonesia, contohnya gerakan makan telur hindari stunting Kota Prabumulih.

Tujuan program-program tersebut membentuk pola pikir masyarakat mengenai pentingnya kesehatan, ia mengakui usia harapan hidup memang meningkat, namun angka sadar kesehatan ternyata masih rendah.

"Angka keluarga sehat di Indonesia 16,8 persen, artinya dalam satu keluarga yang mengerti kesehatan hanya 1-2 orang, sisanya tidak menyadari pentingnya kesehatan, ini masih menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama," jelas Nila F. Moloek

Baca juga: Obesitas bisa kurangi 8 tahun usia harapan hidup

Tak hanya itu, meski usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat, pada saat bersamaan beban akibat penyakit tidak menular ikut meningkat secara drastis.

Misalnya penyakit jantung dan tuberkulosis telah meningkat selama 25 tahun terakhir, peningkatan tersebut didorong lingkungan dan pola makan tidak sehat, tekanan darah tinggi, serta kebiasaan merokok yang masih banyak dilakukan masyarakat Indonesia.

Realita tersebut mensinyalir akan semakin banyak masyarakat yang menginginkan sentuhan pelayanan kesehatan, sebab biaya berobat penyakit tidak menular nyatanya paling banyak menghabiskan anggaran BPJS.

"Penyakit menular tertinggi itu jantung, porsinya 51 persen dan tahun lalu BPJS membayar Rp10,8 Triliun hanya untuk penanganan penyakit jantung," tambahnya.

Dengan demikian, Kemenkes berupaya terus meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan hingga ke wilayah sulit terjangkau lewat beragam cara, seperti program ambulan motor di desa-desa agar angka usia harapan hidup masyarakat terus meningkat.

Baca juga: Merasa lebih muda ternyata baik untuk kesehatan

Pewarta: Aziz Munajar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menkes minta RS di Sulteng prioritaskan kepuasan pasien

Komentar