counter

Perebutan kepemimpinan terjadi dalam partai presiden Tunisia

Perebutan kepemimpinan terjadi dalam partai presiden Tunisia

Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi membacakan sumpah jabatan di Majelis Konstituen, Tunis, Tunisia, Rabu (31/12). Politisi veteran Essebsi disumpah sebagai presiden Tunisia Rabu kemarin, menjadikannya presiden pertama yang dipilih secara demokratis sejak gerakan kebangkitan yang menggulingkan otokrat Zine El-Abidine Ben Ali. (REUTERS/Zoubeir Souissi)

Tunis (ANTARA) - Partai Nidaa Tounes yang berkuasa di Tunisia pada Sabtu memilih dua pemimpin, salah satu di antara mereka ialah putera presiden, dalam dua pertemuan paralel, yang memperdalam perpecahan dalam partai itu selama beberapa tahun belakangan.

Krisis yang baru terjadi dan melanda Nidaa Tounes berlangsung beberapa bulan menjelang pemilihan parlemen dan presiden yang dijadwalkan berlangsung Oktober dan November. Hal tersebut dapat mengganggu kompetisinya melawan partai Ennahda sebagai saingan. Walaupun slogan kongres pemilihan pertama Nidaa Tounes yang mulai diadakan pekan lalu adalah "persatuan", acara itu diakhiri dengan terbentuknya dua kongres.

Kongres pertama memilih anggota parlemen Sofian Toubel sebagai ketua komite sentral partai itu. Kongres kedua memilih Hafedh Caid Essebsi, putera Presiden Beji Caid Essebsi.

Perpecahan itu telah menggoyang partai tersebut sejak tahun 2015, sementara putera Essebsi telah dikecam karena berusaha mengendalikan partai itu, membuat banyak para pemimpinnya mengundurkan diri.

Perdana Menteri Youssef Chahed juga terlibat perselisihan dengan Hafedh Caid Essebsi dan menuduhnya membawa-bawa masalah partai itu ke negara. "Kongres Monastir (yang putera Essebsi terpilih) ilegal dan usaha untuk membelokkan legitimasi", kata pejabat partai Ons Hattab.

Putera Essebsi membantah tuduhan-tuduhan tersebut dan mengatakan dia dikejutkan oleh sikap beberapa pemimpin yang pergi mengikuti konferensi paralel, dengan menambahkan bahwa hal ini dapat mengganggu partai.

Pemilihan parlemen diperebutkan oleh partai Ennahda yang bergaris Islam moderat, Tahya Tounes yang lebih sekuler pimpinan PM Chahed, dan Nidaa Tounes.

Partai-partai tersebut memimpin negara di Afrika Utara itu bersama-sama tetapi koalisi mereka telah dilanda oleh pertikaian yang telah mengganggu pembuatan keputusan dan memperlambat reformasi ekonomi yang dituntut para pendonor asing.

Sejauh ini belum ada tokoh yang menyatakan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun ini.

Sumber: Reuters



 

Kisah pengantar air galon jadi anggota DPRD kalahkan ketua partai

Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar