counter

Ethnomatika jadikan matematika lebih realistik bagi siswa

Ethnomatika jadikan matematika lebih realistik bagi siswa

Dyah Worowirowirastri Ekowati, salah seorang dosen Prodi PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengenalkan metode mengajar matematika dengan media budaya yang dikenal dengan metode Ethnomatika (ANTARA/ Endang Sukarelawati)

Matematika adalah aktivitas dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari
Malang (ANTARA) - Tiga dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengenalkan metode mengajar matematika dengan menggunakan budaya sebagai medianya (ethnomatika) dan membuat matematika menjadi lebih realistik.

"Keanekaragaman budaya Nusantara menjadi identitas suatu bangsa, khususnya Indonesia. Hal ini yang mengilhami kami  memperkenalkan metode pembelajaran matematika dengan menggunakan budaya sebagai media," kata dosen UMM Dyah Worowirowirastri Ekowati di Malang, Jawa Timur, Sabtu.

Selain Dyah, ada dua dosen PGSD UMM lain yang juga berkecimpung dalam penulisan buku Ethnomatika tersebut, yakni Dian Ika Kusumaningtyas dan Nawang Sulistrani.

Lebih lanjut, Dyah mengatakan Ethnomatika berasal dari gabungan dua kata, yaitu Etnik atau kebudayaan dan Matematika. Secara harfiah bisa diartikan pembelajaran matematika dengan menggunakan budaya sebagai medianya. Jadi, siswa tidak hanya belajar matematika saja, tetapi mereka juga bisa mengenal budaya Nusantara lewat matematika.

Menurut Dyah, Ethnomatika pertama kali diperkenalkan oleh D'Ambrosio, seorang matematikawan Brasil pada 1977. Namun dalam perjalanannya mengalami perkembangan dan mulai dikenal luas di berbagai belahan dunia. Karena pembelajarannya yang lebih efektif dan simpel melalui media yang ada di sekitar siswa.

"Pembelajaran matematika, khususnya untuk anak SD, musti diajari sesuatu yang konkrit. Jadi tidak bisa hanya menjelaskan materi dan memberikan soal saja. Karena di Matematika, ada program yang dinamakan Matematika Realistik. Menggunakan benda-benda realistik yang ada di sekitar, lewat budaya misalnya," papar Dyah.

Pada permainan Engklek, misalnya, secara tidak langsung siswa juga belajar Matematika saat melewati petak yang sudah diberi angka dan menghitung jumlah angka yang dilewati. Selanjutnya, membentuk rumah adat yang terdiri atas bangun datar apa saja dan membentuk kelompok yang terdiri dari segitiga, dan lainnya.

Kemudian, sambung Dyah, melalui permainan Engklek siswa juga diajak bermain dengan membentuk rumah adat berdasarkan kelompok-kelompok yang telah dibagi. Lalu siswa dipersilahkan untuk memadupadankan antarkelompok sehingga membentuk rumah adat dari bangun-bangun datar tersebut.

Penerapan buku ini telah dilakukan di sekolah-sekolah. Ini adalah bagian dari pengembangan program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) dalam pembuatan buku bagi dosen. Metode Ethnomatika ini lahir tahun 2017 dan untuk proses cetak lanjutan akan dilakukan tahun ini, ujarnya.

Melalui metode ini, pertama, Matematika menjadi lebih realistis. Kedua, pembelajaran Etno (melalui observasi) merupakan wahana belajar sambil bermain di luar ruang bagi siswa. Ketiga, memperkenalkan kebudayaan kepada siswa. Dengan begitu diharapkan mereka memiliki kepedulian untuk melestarikannya.

Selain itu, lanjutnya, juga mampu memacu siswa untuk terus mensyukuri kenikmatan  yang diberikan Tuhan atas benda di sekitarnya. Nilai ini sesuai dengan nilai karakter dalam kurikulum 2013.

"Belajar Matematika itu tidak abstrak saja, tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan nyata. Karena bagi saya belajar Matematika itu bukan hanya bicara tentang rumus. Lebih dari itu, Matematika adalah aktivitas dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.


Baca juga: Pengajaran matematika era revolusi industri 4.0 manfaatkan teknologi siber
Baca juga: Kemendikbud terapkan HOTS dongkrak kemampuan matematika Indonesia
 

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelajar SMK keluhkan pendeknya durasi ujian Matematika

Komentar