Artikel

Meneladani Kartini di tengah revolusi 4.0

Oleh Dolly Rosana

Meneladani Kartini di tengah revolusi 4.0

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Palemban, Prof Isnawijayani MSi, Ph.D (kanan) bersama mahasiswanya. (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Ajak dan ajari anak untuk bersosialisasi
Palembang (ANTARA) - Ibu-ibu muda atau kalangan emak-emak masa kini harus tahu cara mencetak generasi di era revolusi industri 4.0 karena sejatinya di tangan merekalah nasib bangsa ini berada.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Palembang Prof Isnawijayani MSi, Ph.D. di Palembang, Minggu, mengatakan kalangan perempuan harus meneladani apa yang dilakukan R.A. Kartini, yang mana mesti ia bisa mengeyam pendidikan lebih baik, bahkan menyamai laki-laki pada masa itu, tapi tetap saja menanamkan nilai-nilai agama dalam mendidik anak. Saat ini, sebagai generasi perempuan yang sudah mengakses pendidikan jauh lebih baik daripada R.A. Kartini maka sudah seharusnya mereka lebih piawai dalam mencetak generasi mendatang.

Mereka harus tahu cara mengarahkan Generasi Z dan Generasi Alfa di tengah revolusi industri 4.0 ini.

Bukan hanya itu, Kartini masa kini dalam mendidik anak harus memberikan pendidikan agama, mengajarkan sopan santun, dan menanamkan nilai-nilai kekeluargaan.

Selain itu, ibu juga harus mampu meningkatkan semangat juang anak-anaknya agar tidak mudah putus asa dan bosan.

"Ajak dan ajari anak untuk bersosialisasi," kata dia.

Hal yang tak kalah penting, yakni memberikan batasan dalam penggunaan gawai. Pada anak 2-3 tahun, batasi waktu maksimal 30 menit, kemudian anak harus beraktivitas lain, seperti bermain di luar ruangan.

Lakukan "eye contact" dan komunikasi dua arah dengan anak karena hal ini penting bagi perkembangan si kecil.

Sebaiknya, ibu memberikan anak permainan edukatif. Bila melalui gawai, usahakan ibu lebih interaktif.

Intinya, Kartini masa kini harus mampu menghadapi kedua generasi ini yang membutuhkan kepekaan terhadap teknologi dan perkembangan zaman.

Menurutnya, hal itulah yang dipedomani sebagai semangat jika ingin berjuang seperti Kartini.

Pada era yang serba canggih ini, kaum perempuan wajib selalu belajar dengan mengetahui informasi baru dalam segala hal, berjaringan banyak teman, membaca, selalu berkeinginan termotivasi meningkatkan status diri.

"Bukan hanya status di 'handphone' (telepon seluler) yang di-'update'," kata dia.

Cita-cita Kartini telah terwujud dengan banyaknya kaum perempuan yang berpendidikan tinggi dan menduduki jabatan penting, namun di satu sisi masih banyak perempuan yang belum mendapatkan perlakuan secara adil.

Ketidakadilan ini merupakan ketidakadilan sosial dan merupakan cerita klasik tertua dalam sejarah manusia.

Walaupun dunia sudah maju, masih terdengar bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, sehingga lahir gambaran inferioritas perempuan.

Hal inilah yang harus menjadi semangat perempuan Indonesia dalam melanjutkan cita-cita kartini, cerdas, tanggap berharkat dan bermartabat, serta bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan yang berteknologi canggih di era industri 4.0.

                                                         Gelar
Pada 2 Mei 1964 Presiden Soekarno memberikan gelar pahlawan nasional kepada R.A. Kartini.

Kartini telah berperan dalam membela kaum perempuan dari kebodohan saat itu. Kartini berperan aktif memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki.

Indonesia beruntung ada Kartini yang berkesempatan bersekolah seperti anak-anak perempuan di Eropa. Kartini dapat berbahasa Belanda yang ia pelajari dari kakaknya, pelajar di ELS (Europese Lagere School). Ia dapat bersekolah atas izin Belanda karena ia anak seorang wedana.

Kartini lahir pada 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904. Ia meninggalkan warisan perjuangan kaum perempuan untuk maju dan mengekspresikan keinginan itu melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri.

Sayangnya, ia bersekolah hanya sampai usia 12 tahun. Setelah itu, ia harus dipingit untuk dinikahkan. Otomatis, ia pun harus berhenti sekolah.

Pemikirannya kemudian dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon diberi judul Door Duisternis Tot Lcht, yang dikenal dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini berpesan “Jadilah manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. Perempuan yang sudah maju dan modern tetaplah jadi perempuan dengan kodratnya.

Kartini ingin bebas dari keterkekangan dan keterbelengguan. Bukan bebas sekehendak hati, tetapi ingin diberikan kebebasan dalam memperoleh pendidikan, kebebasan mengemukakan pendapat, dan menentukan kehidupan perempuan.

Zaman pun berganti, dunia mengahadapi kehidupan yang dikenal dengan revolusi industri 1, 2, 3, dan 4 yang ditandai dengan penemuan mesin uap mendorong munculnya kapal uap, kereta api, dan lain-lain, penemuan listrik dan "assembly line" yang meningkatkan produksi barang, inovasi teknologi informasi, komersialiasi "personal computer", dan lain-lain, kegiatan manufaktur terintegrasi melalui penggunaan teknologi "wireless dan big data" secara masif.

Setelah Kartini, lahir generasi Baby Boomer (1946-1964) berjiwa petualang, optimistik, berorientasi kerja dan antipemerintah. Generasi X (1965-1980) yang individualis, luwes skeptis terhadap wewenang, harapan yang tinggi terhadap pekerjaan. Generasi Y (1980-1995), Generasi Z (1995-2010) yang menghargai keberagaman, menghendaki perubahan sosial, suka berbagi, dan berorientasi pada target.

Generasi Milenial (1977-2009) yang percaya diri berorientasi terhadap kesuksesan, toleran, kompetitif, dan haus kesuksesan. Gawai sudah menjadi bagian hidup mereka sepenuhnya, tidak bisa hidup tanpa telepon pintar. Generasi Alfa (2010-sekarang) yang belum terdeteksi sifat-sifatnya.

Yang jelas generasi Alfa paling terdidik karena berkesempatan sekolah yang lebih banyak, akrab dengan teknologi, paling sejahtera, punya jarak umur paling jauh dari generasi sebelumnya, mengalahkan jarak "baby boomer" dengan generasi X.

Generasi alfa sangat tergantung dengan teknologi melebihi dari generasi milenial dan Z, yang sejak lahir mereka sudah hidup di dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat. Gawai sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan iPad di tangan, tidak bisa hidup tanpa telepon pintar, dan mampu mengoperasikan gawai hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. Perubahan teknologi yang masif ini membuat anak Generasi Z dan Alfa sebagai generasi paling transformatif.

Generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dengan umur mereka yang masih sangat muda, mereka memengaruhi putaran ekonomi dunia.

Menurut ahli strategi pemasaran, Christine Carter, Generasi Alfa menghabiskan 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan perangkat teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.

Kemajuan teknologi yang pesat ini ke depannya akan memengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai dengan pergaulan mereka sehari-hari.

Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan, jarak semakin tidak berarti, pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi. Tidak heran, dari semua yang mereka dapatkan membuat Generasi Alfa ini menjadi lebih cerdas dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Oleh Dolly Rosana
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perempuan dan implementasi pemberdayaannya

Komentar