Pengamat soroti kemandegan regenerasi petani

Pengamat soroti kemandegan regenerasi petani

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KPRP) Said Abdullah. (Dokumentasi Pribadi)

Ada program regenerasi petani tapi juga mandeg. Penerapan teknologi bisa menjadi bagian kecil mendongkrak regenerasi namun bukan faktor pengungkit utama
Jakarta (ANTARA) - Pengamat sektor pangan dan Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KPRP) Said Abdullah menyoroti masih adanya kemandegan dalam regenerasi petani, tetapi pemerintah menyatakan bahwa hal itu bisa diatasi antara lain dengan kecanggihan teknologi.

"Ada program regenerasi petani tapi juga mandeg. Penerapan teknologi bisa menjadi bagian kecil mendongkrak regenerasi namun bukan faktor pengungkit utama," kata Said Abdullah kepada Antara di Jakarta, Senin.

Menurut Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan itu, permasalahan terkait dengan penguasaan lahan dan tingkat pendapatanlah yang dinilai menjadi faktor utama regenerasi petani terjadi.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan sudah ada 500.000 orang yang bergabung dalam gerakan petani milenial yang bertujuan memajukan sektor pertanian Indonesia.

Pada kegiatan Apresiasi dan Sinkronisasi Penyuluh dan Petani Andalan di GOR Sudiang Makassar, Sulawesi Selatan, 10 April 2019, Mentan mengatakan tahun 2019 ini ditargetkan sebanyak satu juta petani milenial untuk membawa sektor pertanian Indonesia semakin maju dan menjadi lumbung pangan dunia.

"Untuk petani milenial sebanyak 500.000 sudah bergabung," kata Mentan Amran Sulaiman.

Mentan menjelaskan dalam beberapa tahun 2019 ini banyak generasi muda yang terlihat tidak tertarik untuk menggeluti sektor pertanian atau menjadi petani. Kesannya yang kotor dan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang tidak seberapa dibandingkan dengan beberapa profesi atau bisnis yang lain, menjadi penyebab hingga tidak sedikit yang menganggap sebelah mata.

Namun dalam perkembangannya, hadirnya sejumlah peralatan berteknologi canggih seolah membuka mata kaum milenial untuk bisa memanfaatkan sektor pertanian untuk hidup sejahtera.

Amran sudah memahami itu sehingga pada akhirnya fokus dalam mengembangkan teknologi pertanian mulai dari mesin traktor, penggilingan padi, alat pemanen hingga persoalan bibit juga tidak luput dari sentuhan teknologi.

Sebagaimana diwartakan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian SDM Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono mengakui atas terjadinya penurunan jumlah petani di Indonesia, kini ia pilih mengerahkan alat mesin pertanian yang justru dianggapnya lebih efisien dan murah.

"Kekurangan SDM (petani) itu bisa diantisipasi dengan mengerahkan dan mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian," katanya saat menghadiri launching pembinaan desa mitra Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor di Desa Lemah Duhur Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 13 April 2019.

Momon Rusmono memberikan perbandingan, setiap petani membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk memanen satu hektare lahan dengan menggunakan cangkul. Tapi, menggunakan mesin panen bernama Combine Harvester hanya membutuhkan waktu satu hari untuk memanen tiga hektare lahan.

Menurut dia, selain lebih efisien, penggunaan mesin panen juga bisa memangkas biaya pengeluaran dan beras yang dihasilkan lebih berkualitas.

"Mau tidak mau ke depan pertanian harus berbasis moderenisasi pertanian. Dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian bisa lebih efisien," ujarnya.

Baca juga: HKTI soroti krisis regenerasi petani

Baca juga: Kementan siapkan program regenerasi petani

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar