counter

Larva lalat dari Indonesia laku diekspor ke Belanda

Larva lalat dari Indonesia laku diekspor ke Belanda

Corporate Secretary BioCycle Elza Mayang pada pelepasan ekspor komoditas pertanian di Gudang CDC Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Senin (22/4/2019). (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)

Belatung atau maggot yang dihasilkan untuk nantinya dikeringkan ini bukan berasal dari lalat biasa, melainkan lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). BioCycle, salah satu perusahaan yang membudidayakan maggot, ini telah melakukan pengiriman
Jakarta (ANTARA) - Siapa yang menyangka bahwa belatung atau larva lalat bisa diekspor ke Belanda sebagai pakan substitusi dan tambahan untuk hewan ternak, ikan konsumsi dan ikan hias.

Belatung atau maggot yang dihasilkan untuk nantinya dikeringkan ini bukan berasal dari lalat biasa, melainkan lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). BioCycle, salah satu perusahaan yang membudidayakan maggot, ini telah melakukan pengiriman ke Negara Kincir Angin tersebut dua kali.

"Tahun lalu kita sudah sempat ekspor, tahun ini yang kedua kalinya. Total ekspor sudah lima kontainer, per kontainernya ada 7 ton," kata Corporate Secretary BioCycle Elza Mayang kepada Antara di Gudang CDC Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Senin.

Pelepasan ekspor maggot sebanyak 11,4 ton ini dilakukan bersamaan dengan komoditas pertanian lainnya oleh Badan Karantina Pertanian. Ada pun harga maggot yang diekspor senilai 4 dolar AS per kilogram.

Elza menjelaskan bahwa maggot yang dibudidaya oleh BioCycle ini berbeda dengan produsen lainnya karena tidak menggunakan limbah sampah sebagai media pertumbuhan larva, melainkan menggunakan bungkil kelapa sawit atau palm kernel mill (PKM).

Proses produksi dari telur lalat menjadi larva memakan waktu selama 15 hari. Dari 1 gram telur bisa menghasilkan sekitar 70 kg larva maggot kemudian dikeringkan.
Produk maggot atau larva lalat tentara hitam yang sudah dikeringkan dan dikemas siap ekspor. (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)


Marketing and Reserach and Development BioCycle Arif Wicaksono menambahkan penggunaan bungkil kelapa sawit selain menjamin kualitas maggot itu sendiri, juga karena Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar. Dengan demikian, kekurangan bahan baku tidak menjadi persoalan utama.

"Kalau pakai limbah sampah tidak akan bisa diekspor. Kualitas sampahnya tidak bisa terjamin, sampahnya itu dari bekas makanan halal atau tidak. Tetapi kalau menggunakan PKM, kami bisa jamin kualitas maggotnya dan memberi nilai tambah," kata Arif.

Ia menilai bahwa pasar ekspor maggot masih sangat luas karena budidata maggot hanya bisa dilakukan di iklim tropis. Di sisi lain, maggot memiliki banyak manfaat yakni kandungan amino dna nutrisi yang lebih banyak dari sumber protein lain seperti tepung ikan, Meat Bone Meal (MBM) dan soybean meal.

Saat ini kapasitas produksi maggot yang berada di RPH Bubulak, Bogor, hanya mencapai 20 ton per bulan. Namun, BioCycle berencana melakukan ekspansi di Palembang dan Pekanbaru untuk bisa mencapai 350 ton produksi per bulan.

Baca juga: Kementan lepas ekspor komoditas pertanian, salah satunya larva lalat
 

Pabrik arang ekspor di Cirebon ludes terbakar

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar