Aktivis berharap "Sexy Killers" gugah semangat penyelamatan lingkungan

Aktivis berharap "Sexy Killers" gugah semangat penyelamatan lingkungan

Seorang warga menyaksikan film "Sexy Killers" melalui YouTube di Jakarta, Senin (22/4/2019). (ANTARA/Aditya Pradana Putra)

Dengan begitu, upaya menekan eksploitasi batu bara berlebihan di Indonesia dapat semakin gencar
Jakarta (ANTARA) - Beberapa aktivis lingkungan berharap film Sexy Killers yang populer dalam sepekan terakhir bisa menjadi penggugah semangat bagi berbagai kalangan di Indonesia untuk ikut serta menyelamatkan alam.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta Dede Ahdi di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, berharap popularitas film berdurasi 1,5 jam yang menggambarkan dampak penambangan batu bara di Indonesia itu bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam memanfaatkan energi.

"Dengan populernya film ini, kami aktivis lingkungan juga berharap bisa mengubah arah kebijakan presiden yang terpilih dalam Pilpres 2019 dalam pemanfaatan energi yang lebih pro-lingkungan dan masyarakat," kata Dede di sela aksi untuk memperingati Hari Bumi.

Film karya Dandhy Dwi Laksono yang menceritakan dampak kegiatan industri penambangan batu bara di Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa dan Kepulauan Karimunjawa terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar itu juga diharapkan bisa menyegarkan kembali ingatan masyarakat Indonesia mengenai masalah eksploitasi batu bara.

"Faktanya, Indonesia masuk dalam sepuluh negara penghasil batu bara terbesar di dunia, tapi saya heran kenapa fakta-fakta di balik eksploitasi batu bara tampak timbul tenggelam di media, terutama pada generasi baru," kata Riyanni Djangkaru, aktivis lingkungan pendiri gerakan penyelamatan ikan hiu Save Sharks.

Riyanni berharap efek film yang disaksikan 18 juta kali di YouTube setelah sepekan dirilis itu seperti bola salju di kalangan masyarakat Indonesia, mendorong semakin banyak orang menggali informasi dan fakta mengenai dampak eksploatasi tambang terhadap lingkungan dan warga sekitarnya.

"Selain itu, saya juga berharap presiden yang akan terpilih nanti bisa move on (beralih) dari energi batu bara ke energi yang terbarukan, seperti energi surya," katanya.

Pegiat Marhaen Pecinta Alam (Marpala) Universitas Bung Karno Bakso Souisa juga berharap film itu tidak hanya mempengaruhi warga Indonesia, namun juga masyarakat dunia.

"Dengan begitu, upaya menekan eksploitasi batu bara yang berlebihan di Indonesia dapat semakin gencar dan rehabilitasi lingkungan yang rusak bukan tidak mungkin bisa terealisasi," kata Souisa usai melakukan aksi teatrikal pada peringatan Hari Bumi di Balai Kota DKI Jakarta.

Sementara aktivis dan musisi penyuara isu lingkungan Khamdan Primandaru mengatakan film Sexy Killers menunjukkan bahwa eksploitasi batu bara secara berlebihan dan tidak sesuai aturan membawa dampak buruk bagi alam serta manusia.

Menurut pria yang bekerja sebagai penyuluh kehutanan itu, pemerintah harus menegakkan aturan dalam pengelolaan tambang batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap untuk menekan pengaruh buruknya terhadap lingkungan dan warga sekitarnya.


Baca juga: Film "Bumiku" akan diputar di konferensi perubahan iklim PBB
Baca juga: Menteri LHK kampanyekan lingkungan hidup lewat film
 

Pewarta: Virna P Setyorini/Aditya Pradana Putra
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Area pertambangan batu bara yang kini jadi oasis perkotaan di Hebei

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar