counter

Rawan bencana bukan alasan Indonesia tidak maju

Rawan bencana bukan alasan Indonesia tidak maju

Kepala Bappenas/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro saat membuka Rakorbangnas BMKG Tahun 2019 di Jakarta, Selasa (23/4/2019). (ANTARA/Desi Purnamawati)

Jangan hanya belajar mitigasi bencananya tapi juga saya inginkan kerja keras, logikanya kalau seseorang hidup di alam yang keras dan tidak bersahabat harusnya punya usaha lebih keras untuk bertahan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Bappenas/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan kondisi Indonesia yang rawan bencana bukan menjadi alasan belum menjadi negara maju.

"Justru bagaimana caranya supaya kondisi atau potensi bencana yang memang harus kita hadapi memotivasi kita menjadikan kita sebagai bangsa yang bekerja keras dan menjadi negara maju," kata dia pada Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tahun 2019 di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan Indonesia perlu mencontoh Jepang yang juga merupakan daerah rawan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami, akan tetapi menjadi salah satu negara yang maju, baik dari segi ekonomi maupun teknologi.

Kondisi kerawanan yang dihadapi "Negeri Matahari Terbit" itu malah memotivasi warganya untuk bisa bekerja lebih keras lagi.

"Jangan hanya belajar mitigasi bencananya tapi juga saya inginkan kerja keras, logikanya kalau seseorang hidup di alam yang keras dan tidak bersahabat harusnya punya usaha lebih keras untuk bertahan," tambah dia.

Terlebih lagi, dengan beragamnya bencana yang terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, puting beliung, dan lainnya, kata dia, maka perlu ditingkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana alam itu.

Untuk itu, ia mengharapkan kontribusi secara optimal dari BMKG terkait dengan penyebaran informasi serta peringatan dini, terutama saat ini dengan semakin meningkatkan bencana hidrometeorologi.
 

Biksu berdoa untuk kedamaian Indonesia pasca-pemilu

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar