counter

Proyek kilang Pertamina dirancang hasilkan bahan bakar bernilai tinggi

Proyek kilang Pertamina dirancang hasilkan bahan bakar bernilai tinggi

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero) Ignatius Tallulembang didampingi VP Corporate Communication Fajriyah Usman (kanan duduk) saat berbicara pada lokakarya "Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina" di Jakarta, Rabu (24/4/2019). (ANTARA/Faisal Yunianto)

Megaproyek tersebut juga akan memproduksi produk petrokimia sebesar 6,6 juta ton per tahun, sehingga akan mengurangi impor produk strategis tersebut
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah proyek kilang pengolahan minyak berkonsep ramah lingkungan yang tengah dibangun PT Pertamina (Persero), dirancang mampu menghasilkan produk bahan bakar bernilai tinggi yang ramah lingkungan dengan standar Euro 5 atau meningkat dari saat ini Euro 2.

"Megaproyek tersebut juga akan memproduksi produk petrokimia sebesar 6,6 juta ton per tahun, sehingga akan mengurangi impor produk strategis tersebut," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero) Ignatius Tallulembang saat berbicara dalam diskusi seputar proyek pengolahan dan petrokimia Pertamina di Jakarta, Rabu.

Proyek-proyek kilang tersebut adalah Proyek Perluasan (Refinery Development Master Plan/RDMP) kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Dumai. Berikutnya Proyek Pembangunan Kilang Minyak dan Petrokimia (Grass Root Refinery/GRR) Tuban dan Bontang. Kemudian Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC), dan Proyek Pengembangan Green Refinery Plaju.

Menurut Tallulembang, megaproyek kilang yang direncanakan rampung secara keseluruhan pada 2026 atau 2027 tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar minyak dari saat ini sebesar 680.000 barel per hari menjadi 1,7 juta barel per hari.

"Peningkatan produksi bahan bakar tersebut selain mengurangi volume impor dan berdampak positif pada devisa negara, tentunya akan mendukung kemandirian energi yang dicita-citakan dalam Nawacita," ujarnya.

Tallulembang juga menambahkan kilang baru Pertamina dirancang mampu mengolah minyak mentah asam (sour crude) yang banyak tersedia di pasar hingga 100 tahun mendatang. Sementara kilang eksisting didesain hanya untuk mengolah minyak mentah manis (sweet crude) yang mahal sehingga tidak efisien.

"Faktor pasokan minyak ini sangat penting karena merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi BBM," katanya.

Namun Tallulembang mengingatkan bahwa mewujudkan kilang minyak bukan pekerjaan mudah karena tantangannya cukup besar. Hal itu terkait dengan karakteristik proyek tersebut yang berisiko tinggi, butuh investasi besar dan sarat teknologi canggih.

"Untuk membangun satu kilang saja dari mulai pembuatan konsep hingga beroperasi butuh waktu 7-8 tahun," katanya.

Sejauh ini, menurut dia, pemerintah sudah banyak memberikan dukungan untuk mewujudkan proyek tersebut seperti menjadikannya sebagai proyek strategis nasional (PSN) melalui Perpres Nomor 146 Tahun 2015 dan Perpres Nomor 56 Tahun 2018 serta dituangkan pula dalam sejumlah Kepmen ESDM untuk RDMP Cilacap dan Balikpapan serta GRR Bontang dan Tuban.

"Dukungan lain adalah pemberian fasilitas tax holiday dan kemudahan perizinan untuk mendirikan perusahaan patungan seperti saat pendirian Joint Venture PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) untuk proyek GRR Tuban," ujar Tallulembang.

Baca juga: Tekan impor BBM, Pertamina percepat proyek kilang ramah lingkungan

 

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina belum pastikan penyebab kebakaran kilang Balikpapan

Komentar