counter

KPU Surakarta prihatin dua pejuang demokrasi meninggal

KPU Surakarta prihatin dua pejuang demokrasi meninggal

istri almarhum Suratin (54), Dwi Astuti (55) (duduk tengah) saat meratapi suaminya yang menjadi tulang punggung keluarganya meninggal setelah bertugas sebagai petugas keamanan di TPS 147 di Perum Tegal Asri RT 03 /RW 22, Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo. Kamis. (Foto:Bambang Dwi Marwoto)

Solo (ANTARA) - Komisi Pemilihan Umum Kota Surakarta merasa berduka mendalam dan prihatin ada dua orang pejuang demokrasi meninggal dunia setelah menjalankan tugas pada Pileg dan Pilpres 2019.

"Keluaga besar KPU berduka yang mendalam atas meninggalnya dua petugas keamanan di TPS 70 Nusukan dan TPS 147 Kadipiro Banjarsari," kata Ketua KPU Surakarta, Nurul Sutarti di Solo, Kamis.

Menurut Nurul KPU Surakarta barun semoat menjenguk keluarga almarhum Pamuji Ruswandi (46), warga Kampung Cengklik RT 01/RW 19, Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo.

Menurut Nurul, dari keluarga almarhum Pamuji, karena belum ada santunan. Keluarga besar KPU Surakarta melakukan iuran untuk membantu pihak keluarga almahum. Hal ini, sudah biasa dilakukan untuk membantu jika ada yang sakit atau anggota keluarga yang meninggal.]

"Hal ini, sebagai bentuk perhatian kepada keluarga besar KU yang sedang kesusahan," kata Nurul.

Nurul mengatakan almarhum Suratin (54) warga Perum Tegal Asri RT 03 /RW 22, Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, yang bertugas sebagai keamanan dan ketertiban di TPS 147 Kadipiro, setelah tugas kemudian sakit.

"Suratin memang ada kemungkinan karena kelelahan, setelah selesai tugas kemudian sakit. Dan, Suratin dikabarkan meninggal Kamis, sekitar pukul 06.00 WIB," katanya.

Menurut dia, dengan meninggalnya Suratin petugas keamanan di TPS 147 ini, sehingga ada dua orang yang mengalami nasib sama diduga akibat kelelahan selesai tugas Pemilu.

"Kami prihatin sekarang masih tahap kegiatan rekap surat suara di tingkat panitia pemungutan kecamatan (PPK) di Kota Solo, paling tidak masih ada kecamatan yang belum selesai," katanya.

Menurut dia soal kesehatan dengan pengobatan gratis, Pemkot Surakarta sudah memfasilitasi dan sudah ada dokter yang melakukan pemeriksaan secara rutin ke petugas di PPK.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada petugas KPU, PPK, dan PPS untuk tetap menjaga kondiis kesehatannya masing-maisng. Jika badan sudah terasa tidak kuat melakukan kerja langsung saja di "save" seperti yang memiliki banyak TPS seperti Jebres, Bojosongo, Nusukan, dan Kadipiro.

"Jika kondisi sakit jangan dipaksakan, bisa diganti petugas lainnya yang satu tim," katanya. ***3***

 

KPU tunjuk lima firma hukum hadapi gugatan PHPU

Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar