counter

TIM diusulkan sebagai situs cagar budaya

TIM diusulkan sebagai situs cagar budaya

Gedung teater Taman Ismail Marzuki Jakarta. (cc) (cc/)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Bagian Arsitektur Kota dan Lingkungan yang juga bagian Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta Danang Priatmodjo mengatakan pihaknya hendak mengusulkan kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai situs cagar budaya untuk menjaga kelestarian warisan budaya.

"Seluruh kompleks Taman Ismail Marzuki akan direkomendasikan sebagai situs cagar budaya," kata Danang dalam Sarasehan 50 Tahun Planetarium dan Observatorium Jakarta di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu.

Saat ini Tim Cagar Budaya Jakarta sedang mengkaji kompleks Taman Ismail Marzuki termasuk Planetarium di dalamnya terkait rencana revitalisasi TIM yang dimulai pada 2019.

Danang mengatakan dengan minimal ada dua bangunan atau struktur cagar budaya, maka bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Dua bangunan cagar budaya yang bisa direkomendasikan di kompleks TIM adalah Planetarium Jakarta dan Graha Bakti.

Dengan mendapat status sebagai situs cagar budaya, maka akan aman dari pengalihan bangunan dalam proses pembangunan yang dilakukan investor, sekaligus bermanfaat untuk kelestarian bangunan untuk jangka waktu panjang.

Setelah berstatus sebagai bangunan cagar budaya, maka pengelolaan bangunan akan meliputi di antaranya pelestarian, perlindungan, penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, pemugaran dan pengembangan.

Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) Taman Ismail Marzuki Imam Hadi Purnomo dalam peringatan ulang tahun ke-50 Planetarium dan Observatorium Jakarta, mengatakan revitalisasi TIM termasuk di dalamnya Planetarium Jakarta akan sesuai dengan harapan, perkembangan, dan keinginan masyarakat.

"Harapan saya tentu bisa lebih baik di masa akan datang," ujarnya.

Groundbreaking revitalisasi Taman Ismail Marzuki direncanakan dimulai pada Juni 2019, dan revitalisasinya ditargetkan selesai pada 2021.

Baca juga: Jakarta siapkan diri jadi pusat seni dan budaya Asia

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar