Wisata ziarah Islami dengan tujuan Azerbaijan

Oleh Mohamad Anthoni

Wisata ziarah Islami dengan tujuan Azerbaijan

Makam Yahya Bakuvi. Dia pendiri sekolah sufisme "Khalvati" (Kedutaan Besar Azerbaijan/HO)

Jakarta (ANTARA) - Azerbaijan terletak di persimpangan antara dua kebudayaan dunia Eropa dan Asia, dan memiliki tempat-tempat bersejarah peninggalan Islam yang patut dikunjungi oleh para peziarah. Selain itu negara ini mempunyai kekayaan sumber alam.

Koridor Trans-Kaukasia dan infrastruktur yang tersedia di Azerbaijan menghubungkan Eropa dengan negara-negara Kaukasus dan Asia Tengah.

Negara yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet ini berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Georgia dan Armenia di barat, dan Iran di selatan. Negara yang berbentuk republik ini memiliki luas 86,6 ribu km2 dan populasi sekitar 10 juta merupakan sebuah negara dengan iklim dan alam yang unik.

Azerbaijan pertama kali berdiri sebagai sebuah negara Muslim pada tahun 1918 tetapi pada tahun 1920 ini bergabung dengan Uni Soviet dengan nama Republik Sosialis Soviet Azerbaijan. Setelah Uni Soviet runtuh tahun 1991, Azerbaijan kembali menjadi negara merdeka.

Baku adalah ibu kota sekaligus kota terbesar Azerbaijan. Penduduknya berjumlah lebih 2 juta jiwa. Berada di pantai Semenanjung Abşeron bagian selatan, kota ini terdiri atas dua bagian utama: Pusat Kota dan Kota Dalam. Baku adalah salah satu kota tertua dan terbesar di Timur.

Pada tahun 2007, menteri budaya dari negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam menyatakan Baku sebagai ibu kota Budaya Islam pada tahun 2009. Kota Dinding Baku - bersama dengan Istana Shirvanshah dan Qız Qalası didaftarkan ke Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2000. Menurut peringkat Lonely Planet, Baku merupakan salah satu dari 10 tujuan teratas di dunia untuk kehidupan malam kota.

Kedutaan Besar Azerbaijan di Jakarta akan menyelenggarkan resepsi terkait dengan hari ulang tahun ke-101 Republik Demokratik Azerbaijan dan 100 tahun Dinas Diplomatik Azerbaijan.

Dalam suatu kesempatan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Azerbaijan, Ruslan Nasibov, menceritakan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai negaranya selama sedikitnya satu dekade belakangan dan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Secara khusus dia menawarkan para pelancong untuk mengunjungi sejumlah peninggalan bersejarah di negaranya.

“Orang-orang Indonesia bisa pergi ke Azerbaijan untuk berziarah dengan fasilitas visa on arrival,” kata Ruslan. "Lebih 3 juta orang Azerbaijan pergi ke luar negeri antara lain untuk berlibur dan berbisnis."


Islam masuk ke Azerbaijan

Islam masuk ke Azebaijan sejak abad VII selama pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khatab. Ketika bangsa Arab mendarat di pesisir Laut Kaspia, mereka kagum dengan benteng kota dan menyebutnya sebagai “Bab ul-Abvab”. Menurut sejarawan Valazuri, selama pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib, mayoritas penduduk Azerbaijan telah menerima Islam.

Dalam sejarah Islam, Azerbaijan memiliki peran khusus yang tertulis di dalam “Jam’ul Qur’an” – kumpulan kitab suci Alquran yang dicetak ulang dengan ‘harakahs’ (tanda-tanda baca) guna memastikan Muslim di seluruh dunia membacanya dengan cara yang sama. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Kalifah Usman bin Affan.

Para peziarah dapat mengunjungi gua Ashabul Kahfi, Kota Tua, Istana Shirvan, Istana Khan, dan Nizami Ganjavi.

Di lokasi 12 km jauhnya dari kota Nakhchivan, pegunungan antara Ilandang dan Nahajir, gua alami tempat Ashabul Kahfi menyepi, yang dalam bahasa Arab berarti “Manusia Gua”. Terdapat informasi dalam pustaka agama kuno, dan juga dalam kita suci Alquran bahwa tempat dengan nama yang sama terdapat di wilayah Asia Kecil atau Palestina, Suriah dan Turki.

Pekerjaan renovasi dan restorasi dilaksanakan di kawasan itu dan keadaannya dirancang untuk kaum peziarah. Tersedia jalan yang nyaman sepanjang 13 km, masjid juga telah dibangun, dan prasasti didirikan

Kota tua berada di tengah Baku. Di wilayah yang meliputi 22 ha ini terdapat lebih dari 50 monumen dan bangunan bersejarah dari berbagai zaman dari Kota Tua. Istana Shirvan, Menara Gadis, Menara Sinig yang dilestarikan hingga kini.

Salah satu dari mutiara arsitektur Azerbaijan ialah Istana Shirvan yang dibangun pada awal abad XV, dan ternasuk komplek, halaman, ruang pengadilan, mausoleum (pusara raja-raja), masjid istana, tempat pemandian, pusara Seyed Yahya Bakuvi dan selanjutnya didirikan ruang ‘Timur”.

Bangunan pertama dari komplek terkait dibangun sekitar tahun 1441, dan “Timur” pada 1558 dibangun oleh arisitek Amirsyah. Dia adalah pendiri Sekolah Sufisme “Khalvati”. “Shifa-ul esrar” buku terkenal Seyed Yahya Bakuvi yang telah berusia 500 tahun.

Menara Gaidis adalah monumen yang dianggap oleh banyak sarjana dibangun pada abad VII-VI SM.

Selain itu ada Istana Sheki Khan yang termasuk dalam daftar munumen dunia. Istana musim panas Sheki dibangun oleh Hussein Khan, cucu dari Haji Khalabi Khan, pendiri dari khanate merdeka yang pertama pada 1761-1762. Hussein Khan, pada saat yang bersamaan sebagai penyair yang juga dikenal dengan nama samaran “Musthad”. Dalam beberapa sumber istana ini tercatat sebagai “Istana Musthag”. Istana Khan dikelilingi oleh tembok benteng dua tingkat, dan terdiri dari enam ruangan, empat lorong dan dua balkon cermin.

Berikiutnya ialah Nizami Ganjavi. “Ganja” adalah nama kota di Azerbaijan dimana Sheikh Nizami dilahirkan pada tahun 1141 dan mangkat pada tahun 1209. Puisi karyanya yang terkenal ialah “Leila dan Majenun”

Oleh Mohamad Anthoni
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dubes RI untuk Azerbaijan puji produk UMKM asal Malang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar