counter

Artikel

Bibit kehidupan di tanah gusuran Kampung Akuarium

Oleh Astrid F Habibah

Bibit kehidupan di tanah gusuran Kampung Akuarium

Warga beraktivitas di Kampung Akuarium, Jakarta, Jumat (12/4/2019). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

...orang bisa melihat kita bisa punya nilai lebih karena ternyata kita yang dulu dihilangkan bisa kuat, bisa bangkit, dan mau memperbaiki diri...
Jakarta (ANTARA) - Petak lahan tempat Kampung Akuarium berada di Penjaringan, Jakarta Utara, yang sesudah penggusuran tahun 2016 menjadi panas, gersang dan berdebu, sekarang sudah hijau dan asri.

Aneka tanaman menghiasi teras-teras rumah warga. Tanaman sayur-mayur tumbuh lebat di sebelah kanan gerbang kampung, dan pohon buah-buahan tumbuh rimbun di bagian belakangnya.

Perubahan kondisi lingkungan Kampung Akuarium, yang setelah penggusuran disebut shelter, tidak lepas dari peran Dharma Dhiani (42).

Menjadi bagian warga yang terdampak penggusuran tidak membuat perempuan itu putus harapan lantas hanya berdiam diri.

Dia yakin warga kampung masih bisa punya kehidupan yang lebih baik, dan berusaha memperbaiki kondisi kampung melalui penghijauan.

"Saya memang hobi bercocok tanam sejak dulu, lalu saya berpikir masa sih kita mau begini saja, pasrah dengan keadaan tanpa melakukan apa pun," kata Dharma dengan suara lantang penuh semangat.

Bermodal tekad dia menjelajahi kampung sebelah dan mendatangi instansi-instansi pemerintah untuk mendapatkan sumbangan bibit tanaman dan media tanam.

"Sempat diremehkan ketika saya mencoba meminta tanaman milik taman kelurahan yang sedang dibongkar, mereka mengaggap tanah kami tanah puing jadi tidak bisa ditanami," kata Dharma.

Usahanya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan sumbangan bibit aneka tanaman, termasuk singkong, pisang, bibit jeruk, kelengkeng, menteng, jambu kristal, jambu air, sayur-sayuran, tanaman toga, serta pohon perindang.

"Awalnya tanaman yang kita tanam ya minta semua karena dari kita juga enggak ada dana untuk beli bibitnya," kata dia.

Semula tidak banyak warga kampung yang membantu Dharma menghijaukan jampung.

Topaz Juanda (35), ketua rukun tetangga di kampung itu, mengatakan awalnya agak susah mengajak warga ikut melakukan penghijauan.

"Kebanyakan warga masih memikirkan diri sendiri dan pasrah jika ada penggusuran lagi. Saya dan Bu Dharma berusaha keras untuk menggugah warga untuk peduli dengan lingkungannya," kata Topaz.

Setelah bibit-bibit tanaman itu tumbuh dan membuat lingkungan lebih asri, warga yang lain baru ikut bergabung dengan Dharma dan Topaz melakukan penghijauan.

"Lama-lama jadi ketagihan, bahkan ada warga yang dulunya cuek tiba-tiba kasih sumbangan bibit labu yang daunnya merambat. Hasilnya mulai terlihat, eh pada aktif deh emak-emak kampung ini," kata Topaz dengan senyuman.

Dharma, Topaz dan warga kampung lainnya tidak menyangka tanaman mereka bisa tumbuh dengan baik di lahan kampung yang berbatasan langsung dengan laut, hanya dipisahkan oleh sekat dinding batu bata dengan laut.

"Eh ternyata ada nilai lebih, Kampung Akuarium yang tadinya (banyak) puing dan panas jadi hijau terus adem. Setidaknya bisa menyumbang udara bersih sedikit lah," kata Dharma dengan wajah berseri.


Manfaat Ikutan

Selain menghijaukan dan memperindah kampung, aneka macam tanaman yang sudah tumbuh di Kampung Akuarium hasilnya bisa dinikmati oleh warga. Warga bisa menikmati buah-buahan yang sudah masak di pohon, memetik sayur untuk memasak, dan mengolah tanaman obat.

"Pokoknya tanaman yang ditanam di sini itu ya bisa kembali ke masyarakat, karena masyarakat di sini juga sebenarnya pekerjaannya belum jelas semenjak penggusuran," kata Topaz.

Selain itu, aparat kampung memanfaatkan area bercocok tanam sebagai wahana edukasi bagi generasi muda lewat program Belajar Menanam.

"Mereka diajarkan untuk tanam bibit sayuran, harus dijaga dan dijadwal yang tugas nyiram, cabut rumput, kasih pupuk setiap Sabtu-Minggu," katanya.

Selanjutnya Dharma, Topaz, dan 85 kepala keluarga lain di kampung itu berharap bisa membangun balai bambu untuk sarana pertemuan warga di tengah taman.

"Ya ukuran 5x8 lah biar kalau kita ngadain rapat atau kumpul warga bisa di situ. Tidak mungkin di rumah karena hanya bisa buat selonjoran satu orang saja," kata Topaz lalu tertawa.

"Kami sadar itu perlu biaya yang tidak sedikit, tapi kan bermimpi boleh-boleh saja. Bermimpi sekalian yang tinggi biar kalau jatuh masih ada mimpi-mimpi di bawahnya yang bisa menolong kita," kata Dharma menimpali.

Dharma dan warga lainnya juga ingin lingkungan tempat tinggal mereka lebih baik lagi, dan tak akan berhenti berusaha untuk mewujudkannya.

"Jangan pernah menganggap semua sudah selesai karena apapun itu selama untuk kebaikan kampung akan jadi nilai. Kita dianggap lagi, kita dimanusiakan kembali, dan ternyata orang bisa melihat kita bisa punya nilai lebih karena ternyata kita yang dulu dihilangkan bisa kuat, bisa bangkit, dan mau memperbaiki diri...," demikian Dharma Dhiani.

Baca juga: Warga mantan penghuni Kampung Akuarium kembali untuk mencoblos
 

Oleh Astrid F Habibah
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kampung Akuarium nikmati masakan chef hotel bintang lima

Komentar