Pegiat berbagi kiat Ramadhan ramah lingkungan nol sampah

Pegiat berbagi kiat Ramadhan ramah lingkungan nol sampah

Pedagang membungkus minuman untuk dijual di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/5/2019). Pasar takjil yang ada setiap bulan Ramadhan tersebut dipadati warga untuk membeli makanan berbuka puasa. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.

Intinya, beli makanan yang terencana. Beli yang kita butuh, bukan yang kita mau
Jakarta (ANTARA) - Pegiat gaya hidup nol sampah Siska Nirmala berbagi kiat agar Ramadhan lebih ramah lingkungan, salah satunya adalah menyusun dartar takjil untuk bulan Ramadhan dalam rangka mengurangi makanan berlebih yang akhirnya menjadi sampah.

"Susun pola berbuka yang pas dan tidak bikin begah, misalnya dengan satu atau dua jenis takjil dan air putih sudah cukup. Kalau perlu, bikin daftar menu takjil selama 30 hari dan patuhi menu yang sudah kamu buat," kata Siska saat di hubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Dia menyarankan, agar tidak berbelanja makanan di saat kondisi perut sangat lapar, karena jika perut tidak lapar maka nafsu konsumtif berbelanja makanan dapat dikendalikan.

Kiat Ramadhan yang ramah lingkungan lainnya adalah jangan lupa membawa wadah makan dan botol minum kosong saat membeli takjil, karena ini menghindari semakin menumpuknya sampah plastik.

"Satu wadah saja, dengan bawa wadah makan yang terbatas, kamu juga tidak akan bisa jajan berlebihan," kata dia.

Dengan membawa wadah sendiri maka takjil yang dibeli tidak berlebihan, sehingga selain dapat menghindari sampah plastik juga sekaligus menghindari makanan mubazir karena tidak termakan.

Dia  mengingatkan agar  muslim selalu  mengikuti sunnah rasul dengan berhenti makan sebelum kenyang.

Jika memasak, Siska menyarankan masaklah untuk menu berbuka yang disesuaikan dengan kebutuhan sekali berbuka dan sekalian sahur.

"Menu itu dipastikan habis, biasanya kalau disimpan untuk esok hari justru tidak akan dimakan dan akhirnya dibuang, karena saat puasa biasanya ingin makanan yang baru," kata dia.

Ia juga menyarankan,  ketika berbelanja bahan masakan apalagi sayuran usahakan jangan ditumpuk lebih dari satu minggu.

Lebih baik belanja dalam jumlah kecil, tapi sering. Misalnya per 3-4 hari sekali. Hal ini agar bahan masakan dapat dimasak semua tanpa ada yang terbuang.

"Intinya, beli makanan yang terencana. Beli yang kita butuh, bukan yang kita mau," kata dia.

Ramadhan, menurut dia menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengubah gaya hidup jadi lebih ramah lingkungan.

"Karena sejatinya Ramadhan adalah bulan pengendalian diri, menahan segala hawa nafsu, termasuk hawa nafsu konsumtif. Dengan menahan diri dan tak berlebihan, Insya Allah membawa kebaikan. Tidak cuma untuk diri sendiri tapi juga lingkungan," kata dia.


Baca juga: Blewah dan timun suri paling dicari saat Ramadhan
Baca juga: Masyarakat Jakarta diajak "puasa plastik" selama Ramadhan

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Leumang kuliner favorit berbuka puasa di Aceh

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar