Beijing (ANTARA News) - Sedikit-dikitnya 70 orang tewas dan 26 lain terperangkap setelah ledakan di sebuah tambang batubara di China utara, Kamis, dalam sebuah tragedi yang diperparah oleh upaya penyelamatan yang kacau, demikian laporan Xinhua. Ledakan gas itu terjadi selepas tengah malam di sebuah tambang di kota Linfen, kawasan yang kaya batubara di provinsi Sanxi, kata Badan Keselamatan Pertambangan Negara. Hal itu merupakan tragedi terakhir yang melanda industri pertambangan China yang terkenal tidak aman. Hingga Kamis malam, 70 mayat ditemukan dan sedikitnya 26 pekerja lain masih terperangkap di lubang tambang, demikian laporan Kantor Berita Xinhua mengutip kantor pusat penyelamatan lokal. Sebanyak 15 orang diselamatkan atau berhasil menyelamatkan diri mereka sendiri. Badan keselamatan pertambangan tersebut sebelumnya pada hari itu melaporkan bahwa sedikitnya 40 orang tewas dan 74 lain terperangkap di tambang Ruizhiyuan. Seorang juru bicara badan itu, An Yuanjie, mengatakan kepada AFP, beberapa dari mereka yang terperangkap atau tewas adalah pekerja penyelamat yang dikerahkan masuk ke lokasi kejadian meski ada kekhawtiran bahwa timbunan gas di dalam lubang tambang itu sangat berbahaya. "Setelah kecelakaan itu, perusahaan tambang tersebut mengirim tim penyelamat 32 orang, namun orang-orang itu juga segera terperangkap," katanya. Belum jelas hingga Kamis malam berapa jumlah pekerja penyelamat yang tewas atau terperangkap. An menyatakan, ia belum mengetahui apa penyebab ledakan awal itu dan bagaimana para pekerja penyelamat itu bisa terperangkap di dalam tambang tersebut. Namun, pers pemerintah mengatakan, ledakan itu mungkin terjadi karena operator tambang mengoperasikan tambang itu dengan melebihi kapasitasnya secara ilegal. Siaran malam China National Radio mengatakan, penyebab ledakan itu terkait dengan "produksi berlebihan" di tambang tersebut, yang memiliki izin untuk memproduksi 210.000 ton batubara per tahun. Lebih dari 4.700 pekerja tambang batubara tewas di China tahun lalu, menurut angka resmi -- rata-rata hampir 13 orang tewas dalam sehari. Kelompok-kelompok buruh independen mengemukakan bahwa jumlah orang yang tewas mendekati 20.000 setahun, dan banyak kecelakaan yag ditutup-tutupi. (*)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2007