counter

Menkeu berharap ekonomi global semester kedua kondusif

Menkeu berharap ekonomi global semester kedua kondusif

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (enam kanan) berpose dengan sejumlah pengurus Dharma Wanita Kemenkeu usai membuka pameran Dhawa Fest 2019, di Jakarta, Rabu (8/5/2019). (ANTARA/ Zubi Mahrofi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengharapkan kondisi ekonomi global pada semester kedua 2019 tetap kondusif meski dibayangi sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

"Untuk semester kedua kita berharap kondisi ekonomi global tentu tetap kondusif, meskipun kita tahu sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai perang dagang akan sangat mempengaruhi ke depannya," ujar Menkeu usai membuka pameran Dhawa Fest 2019, di Jakarta, Rabu.

Ia mengemukakan pada pekan ini AS dan China akan melakukan agenda perundingan mengenai tarif dagang kedua negara. Ancaman kenaikan tarif oleh Trump beberapa hari terakhir telah menjadi kekhawatiran dunia.

"Kita lihat hari Jumat pekan ini, kalau memang pemerintah Amerika akan meningkatkan tarif sampai 25 persen terhadap produk-produk China, tentu akan membuat ekonomi China terpengaruh dan berdampak pada kondisi ekonomi dunia, jadi kita juga harus semakin waspada," katanya.

Ia mengatakan kondisi ekonomi global itu tentu akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia yang akhirnya dapat mempengaruhi laju perekonomian nasional.

Dalam menjaga ekonomi nasional tetap tumbuh, Menkeu mengatakan pemerintah akan mendorong aktivitas investasi dan konsumsi rumah tangga agar terus meningkat.

"Saya rasa kita cukup untuk bisa menjaga ekonomi pada semester kedua nanti, tetapi tentu kita akan terus melakukan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong investasi, serta menjaga kepercayaan masyarakat," katanya.

Baca juga: Sri Mulyani optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih baik
Baca juga: Menkeu: ekpor-impor jadi tantangan pertumbuhan ekonomi 2019


Pewarta: Ahmad Wijaya dan Zubi Mahrofi
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembangunan ibu kota negara baru mencapai hampir Rp500 triliun

Komentar