counter

Liga Inggris

Sepak bola itu bukan semata trofi

Oleh Gilang Galiartha

Sepak bola itu bukan semata trofi

Trofi Liga Utama Inggris. (Reuters)

Jakarta (ANTARA) - Gelaran Liga Inggris musim 2018/2019 hanya dalam hitungan kurang dari 12 jam lagi berakhir.

Sekira pukul 23.00 WIB akan jelas sudah, siapa yang menjadi juara, entah Manchester City atau Liverpool. Keduanya cuma terpaut dua poin di klasemen saat ini dan menghadapi lawan yang sama beratnya terlepas dari relevansi posisi lawan mereka di klasemen.

Beban ada di pundak Sergio Aguero dkk, juga di pundak Sadio Mane dkk. Namun di waktu bersamaan ada harapan yang harus dikelola.

Jika para pemain saja harus mengelola harapan, apalah artinya bagi suporter, terutama suporter yang hanya menghabiskan waktu "bersentuhan" dengan klub kesayangan mereka lewat beragam peranti perantara semata dan bukan di tribun penonton.

Sudah tentu, akan banyak sekali makian meluncur dari para suporter Liverpool di media sosial terhadap sang pelatih Juergen Klopp menjelang tengah malam nanti, jika tim Merseyside itu kembali gagal menjadi juara Liga Inggris.

Biasanya itu diikuti dengan cemoohan dari suporter lain dan kemungkinan bukan datang dari suporter Manchester City, sebab mereka pasti lebih memilih untuk larut dalam kebahagian akan juara, ketimbang menghabiskan waktu untuk mencemooh pesaing yang berakhir gagal. Yang punya lebih banyak waktu mengejek suporter Liverpool, sudah tentu suporter tim-tim yang mengaku pesaing tapi tak bisa berbuat banyak musim ini.

Baca juga: Liverpool dan City berpacu juara hingga hari terakhir

29 musim berlalu tanpa trofi Liga Inggris, bakal jadi tema utama ejekan tersebut. Tapi, apakah benar sepak bola cuma semata-mata perkara trofi?

Semua suporter sudah tentu berharap timnya mendapatkan trofi? Tapi apa betul mereka cuma mengharapkan timnya mendapatkan trofi, lainnya tidak?

Jika Anda berpikir iya, dan Anda mengaku suporter Liverpool, ada baiknya merenung dan menengok kepada suporter-suporter klub-klub lain yang pernah juga menjadi juara Liga Inggris seperti Aston Villa, Sunderland, Newcastle United atau kalau perlu mencari orang yang sudah mendukung Manchester City sejak sebelum tahun 2010.

Bagi kita penikmat sepakbola global, yang menggemari sebuah klub sepak bola sebagai pilihan dan bukan warisan dogma, dan lebih banyak menyaksikannya dari peranti perantara, terkadang kita lupa bahwa sepak bola bukan semata soal trofi.

Tentu saja, Bill Shankly pernah bilang "Jika anda di urutan pertama, anda di urutan pertama. Jika anda di urutan kedua, anda bukanlah apa-apa." Tapi, ayolah, cuci muka dulu sebelum mengutip Shankly. Bercermin dulu sebelum mencaci maki Klopp.

Kalau ditanya satu per satu, suporter-suporter Aston Villa, Everton, Sunderland, Newcastle, Manchester City maupun Manchester United, mereka pasti mau berada di posisi ini. Bersaing hingga pekan pamungkas untuk sebuah gelar juara, kalaupun akhirnya tangan tak mencapai trofi itu, perjuangan setiap pemain di lapangan akan lekang di ingatan mereka.

Baca juga: Klopp sarankan suporter tak buru-buru rayakan hasil di Brighton

Tapi wajar jika Anda sulit memahami pola pikir demikian. Sebab boleh jadi Anda bukan cuma tak pernah berada di tribun penonton Anfield, tetapi di tribun penonton stadion sepak bola manapun, atau jangan-jangan tribun penonton olahraga apapun.

Bagi Anda yang menyaksikan sepak bola dari layar kaca ataupun dari layar gawai canggih, Anda seringkali butuh statistik untuk merasa bersentuhan dengan sajian pertandingan olahraga yang anda saksikan. Sementara bagi orang-orang yang menyaksikan langsung di tribun, setiap gerak pemain, baik sedang berada membawa bola ataupun tidak adalah gerak gerik yang akan direkam dalam ingatan.

Kenangan akan perjuangan itu akan terekam di dalam ingatan dan bukan deretan angka-angka. Kalaupun ada trofi di dalamnya, itu akan menjadi bonus, yang mungkin kemudian bakal menjadi bahan bakar bisa kebanggaan bisa kesombongan, masing-masing beda menyikapinya.

Dan kita, penonton layar kaca, apalagi yang menumpang nonton di televisi gratis ataupun kanal-kanal ilegal dunia maya, tak akan pernah bisa memahami perasaan itu.

Dan jika sudah berada di posisi itu Anda tetap pongah memaki-maki setiap sosok yang Anda sebut Anda dukung. Berarti Anda tidak bisa membedakan egoisme dan rasa sayang.

Anda kemudian membiarkan egoisme itu melahap rasa sayang Anda terhadap tim-tim olahraga yang Anda dukung.

Baca juga: Guardiola sebut ungguli perburuan gelar musim ini bak mimpi

Setidaknya, untuk semalam ini, jika Anda suporter Liverpool dan ingin melewati pekan pamungkas tanpa mengancam kesehatan mental pribadi, berhentilah memikirkan trofi sebagai satu-satunya hal yang penting dalam sepak bola.

Jika staf pembawa piala akhirnya putar balik dari rute Amex demi menuju Anfield, syukuri dan nikmati. Jika tidak, nikmati permainan Liverpool musim ini segala naik dan turunnya.

Toh, tiga pekan lagi Liverpool berpeluang meraih trofi lain, yakni Liga Champions, di mana mereka akan bertemu tim finalis debutan Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Spanyol.

Baca juga: De Bruyne berpeluang kembali untuk laga pamungkas City

Baca juga: Salah, Henderson dan Robertson siap main di laga pamungkas

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat anak Rusunawa berlatih di klub Manchester City

Komentar