counter

Peneliti LIPI cari pengalaman dari peraih Nobel

Peneliti LIPI cari pengalaman dari peraih Nobel

Dua peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan proses pembuatan bioplastik berbahan baku tandan kelapa sawit di Laboratorium Kimia LIPI Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (30/4/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti-peneliti muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencari pengalaman dengan berdiskusi langsung dengan peraih Nobel dengan mengikuti HOPE Meeting yang digelar Japan Society for the Promotion of Science (JSPS).

Peneliti bidang material maju berbasis selulosa dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI Nanang Masruchin dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Senin, mengatakan momen berinteraksi dan berdikusi langsung dengan penerima Penghargaan Nobel adalah kesempatan langka sekaligus momen terbaik.

“Bertemu dan berbincang langsung dengan penerima Penghargaan Nobel seperti Prof Brian Schmidt menjadi motivasi bagi saya untuk terus melakukan penelitian yang bisa mendapat pengakuan internasional untuk Indonesia,” kata Nanang.

Ia berharap suatu saat ada peraih Nobel yang berasal dari Indonesia atau berafiliasi dengan institusi riset yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut Nanang mengatakan keikutsertaan di ajang HOPE Meetingjuga memungkinkan terbukanya kolaborasi dengan peneliti-peneliti internasional, terutama untuk lingkup Asia Pasifik.

“Kolaborasi ini bukan hanya untuk mendukung proyek penelitian pribadi saja, namun juga membuka peluang kerja sama sampai ke tingkat lembaga,” ujar dia.

Plt Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI Mila Kencana mengatakan LIPI terus mendorong inovasi sains dan teknologi serta membangun hubungan people to people dalam merespon berbagai tantangan. Saat ini telah banyak kolaborasi sains dan teknologi telah terjalin dalam berbagai bidang untukmeningkatkan konektivitas peneliti dengan isu-isu global.

“Beberapa di antara kemitraan yang telah di bangun LIPI yakni kemitraan dengan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS)untuk penyelenggaraan HOPE Meetingdan kemitraan dengan National Research Foundation (NRF) untuk pertukaran peneliti dan staf pendukung,” katanya.

Mila menjelaskan untuk memajukan sains dan teknologi diperlukan peneliti muda berbakat yang memiliki perspektif luas yang lintas disiplin, individu kreatif yang berasal dari budaya yang berbeda.

“Kegiatan HOPE Meetingmisalnya, berperan besar dalam memfasilitasi para ilmuwan muda yang telah meraih gelar doktor untuk terlibat dalam diskusi interdisipliner dengan para penerima Penghargaan Nobel dan ilmuwan terkemuka lainnya,” kata Mila.

HOPEMeetingsendiri telah diselenggarakan oleh JSPS sejak 2008. Sejak pertama kali diselenggarakan, LIPI telah mengirim puluhan peneliti untuk mengikuti ajang prestisius bagi ilmuwan muda tersebut.

LIPI juga telah menjalin kerja sama dengan National Research Foundation (NRF)di Korea untuk memberikan kesempatan bagi peneliti serta staf pendukung untuk melaksanakan program pertukaran di bidang iptek. Pertukaran tersebut dilakukan dalam rangka mempromosikan dan mengembangkan kerja sama iptek.

Selain mengirimkan peneliti dan staf ke Korea, LIPI juga menerima para ahli Korea untuk berbagi pengalaman dan kemampuan dengan sivitas LIPI. Sejak kemitraan ini dikukuhkan tahun 2016, LIPI telah mengirimkan sembilan sivitas ke universitas maupun lembaga penelitian di Korea.

Sebagai informasi hadir peneliti muda sebagai narasumber diantaranya Nanang Masruchin (Pusat Penelitian Biomaterial) – The 6th HOPE Meeting 2014, Nanik Rahmani (Pusat Penelitian Bioteknologi) - The 11th HOPE Meeting 2019, Apip (Pusat Penelitian Limnologi) – NRF 2017, Kyungpook University, dan Nurul Fitriya, (Pusat Penelitian Oseanografi) – NRF 2018 Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST).

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menilik proses riset pengukuran potensi likuifaksi

Komentar