counter

Masyarakat Surabaya sepakat lawan intoleransi dan radikalisme

Masyarakat Surabaya sepakat lawan intoleransi dan radikalisme

Peringatan setahun tragedi teror bom di Markas Polrestabes Surabaya, Selasa (14/5). (Antara Jatim/ Didik Suhartono)

Surabaya (ANTARA) - Masyarakat Kota Surabaya sepakat melawan intoleransi dan radikalisme serta terorisme melalui sebuah pernyataan yang ditandatangani bersama di sela peringatan setahun tragedi teror bom di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya.

"Mari kita pertahankan apa yang telah diperjuangkan oleh pejuang kita dulu agar kita tetap hidup merdeka," ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di sela peringatan setahun tragedi teror bom di Markas Polrestabes Surabaya, Selasa petang.

Peristiwa teror bom di Surabaya setahun yang lalu terjadi beruntun selama dua hari. Selain menyerang tiga gereja pada 13 Mei, keesokan harinya, 14 Mei, juga menyerang Markas Polrestabes Surabaya.

Serangan itu seluruhnya menewaskan 13 pelaku bom bunuh diri, sedangkan dari kalangan warga sipil terdata 14 korban tewas, selain 42 lainnya mengalami luka-luka.

Peringatan tragedi tersebut dihadiri oleh berbagai komponen masyarakat, termasuk tokoh lintas agama, selain juga Kepala Polrestabes Surabaya Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sandi Nugroho.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Risma mengingatkan, pertempuran mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia pada 10 November 1945 tak hanya diperjuangkan oleh warga kota Surabaya, melainkan juga dibantu oleh pejuang dari daerah lain.

"Kalau sekarang kita tidak jaga kesatuan dan persatuan, bukan tidak mungkin penjajah akan datang kembali. Jangan biarkan anak-anak kita yang sudah menikmati kemerdekaan harus kembali menjalani masa penjajahan," tuturnya.

Senada, Kombes Pol Sandi Nugroho menyatakan Kota Surabaya merupakan peninggalan dari pejuang terdahulu yang harus bersama-sama dirawat dan dijaga agar ke depan lebih bermanfaat.

"Hari ini bersama berbagai komponen masyarakat dan tokoh lintas agama memberikan semangat kepada kepolisian dan seluruh masyarakat lainnya bahwa Kota Surabaya tidak boleh diganggu oleh radikalisme, terorisme dan lain sebagainya," ujarnya.

Mantan Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia ini menyadari sangat membutuhkan peran serta dari berbagai elemen masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban Kota Surabaya.

"Harus menjadi komitmen kita bersama untuk mengeliminir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Menjaga kebersamaan untuk melaksanakan sesuai dengan tugas masing-masing. Bersama pasti kita bisa," ucapnya.

Negara alokasikan Rp 1,1 miliar kompensasi korban teror bom Surabaya

Pewarta: A Malik Ibrahim / Hanif Nashrullah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar