counter

Hasil pembangkit listrik panas bumi di Solok Selatan di atas perkiraan

Hasil pembangkit listrik panas bumi di Solok Selatan di atas perkiraan

PT Supreme Energy Muara Laboh sudah memasuki tahap finishing dan pada September 2019 listrik 80 megawatt sudah bisa disalurkan ke PLN. (ANTARA/Erik IA)

...sehingga pemadaman yang selama ini sering, ke depan tidak akan terjadi lagi
Padang Aro, (ANTARA) - Hasil eksploitasi sumur pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, melebihi ekspektasi awal sehingga masih bisa digunakan untuk menghasilkan daya melebihi 80 megawatt.

Field Representative PT Supreme Energy Muara Laboh, Bujang Joan Datuak Panyalai, di Padang Aro, Sumatera Barat, Kamis, mengatakan semula pihaknya kesulitan mendapatkan uap untuk menghasilkan daya 80 megawatt, tetapi setelah eksploitasi diketahui sumur yang dibor hasilnya sangat bagus, dan lebih dari harapan awal.

Dia mengatakan setelah kapasitas 80 megawatt digunakan tahap pertama, ternyata uapnya masih berlebih dan bisa digunakan lagi.

Saat ini pembangunan proyek PLTP oleh PT Supreme Energy Muara Laboh sudah memasuki tahap finishing atau penyempurnaan dengan target produksi 80 megawatt.

Dia menyebutkan semua peralatan sudah terpasang dan turbin juga sudah siap tinggal penyelesaian dengan harapan pada 23 September 2019 sudah beroperasi secara komersial.

Dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pengujian operasional secara nyata untuk memastikan dayanya memenuhi kapasitas.

Untuk tahap pertama target produksi sebesar 86 megawatt dimana 80 MW disalurkan ke PLN dan enam megawatt digunakan sendiri di lingkungan perusahaan.

Listrik dari PT Supreme Energy Muara Laboh akan disalurkan ke PLN, di mana 20 megawatt digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik Solok Selatan, dan sisanya 60 megawatt disalurkan ke Gardu Induk (GI) Sungai Rumbai dan menyatu dengan jaringan nasional.

Dia menambahkan setelah 80 megawatt selesai, maka dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan pihaknya akan menambah satu turbin lagi.

Sekarang PT Supreme Energy Muara Laboh memiliki sumur F yang kapasitasnya paling besar, dan belum dimanfaatkan sehingga bisa digunakan untuk menambah satu turbin lagi.

"Sumur F potensinya paling besar, dan hasilnya akan lebih besar daripada sumur A, dan itu belum kami manfaatkan pada tahap pertama," ujarnya.

PT Supreme Energy Muara Laboh mulai melakukan pekerjaan fisik pada 2011, sedangkan surveinya sejak 2008 dan akan menghasilkan listrik pada 2019.

Untuk menampung listrik dari PT Supreme Energy Muara Laboh tersebut, pihak PLN sudah membangun Gardu Induk (GI) dan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT).

PLN menargetkan pengoperasian GI Muaralabuh pada Juni 2019. "Kalau GI sudah beroperasi manfaatnya bisa segera dinikmati masyarakat setempat, sehingga pemadaman yang selama ini sering, ke depan tidak akan terjadi lagi," kata Manager Unit Pelaksana Proyek (UPP) Jaringan PLN Wilayah Sumbar Hendro Prasetyawandi.

Dia mengatakan secara prinsip GI sudah selesai dan bisa digunakan, hanya saja kendalanya tidak ada pasokan listrik yang masuk ke GI tersebut. Saat ini katanya mereka mengupayakan mengejar transmisi dari Sungai Rumbai untuk menghidupkan GI Muaralabuh.

"Jadi untuk menghidupkannya butuh suplai dulu dari GI Sungai Rumbai," ujarnya.

Warga Cilegon serahkan seekor buaya ke BKSDA

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar