counter

PLN listriki lima desa di Raja Ampat

PLN listriki lima desa di Raja Ampat

Petugas PLN tengah memasang kabel-kabel listrik pada salah satu desa yang dilistriki di Kabupaten Raja Ampat (Dokumentasi PLN Papua)

Jayapura (ANTARA) - Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat (P2B) secara resmi melistriki lima desa baru di Kabupaten Raja Ampat dengan total pengguna sebanyak 373 pelanggan.

Manager PLN UP3 Sorong Albert Safaria, di Jayapura, Kamis, mengatakan kelima desa tersebut, yakni Fafanlap, Yellu, Harapan Jaya, Gamta dan Magey di mana akan dilistriki oleh pembangkit dengan keseluruhan daya 240 kw.

"Lima kampung ini terletak di Pulau Misool, sekitar 5-7 jam perjalanan dari Waisai menggunakan speed boat, di mana telah menambah jumlah desa berlistrik menjadi 23 desa dari 117 desa yang ada di Kabupaten Raja Ampat," katanya.

Menurut Albert, peresmian ini merupakan bagian dari Program Papua Terang yang menjadi komitmen PLN dalam mewujudkan listrik yang berkeadilan ke seluruh pelosok negeri.

"Ada empat PLTD baru yang akan dioperasikan secara bertahap, yaitu di Fafanlap 2x80 kw, Yellu 2x80 kw, Gamta dan Magey 2x40 kw, dan Harapan Jaya 2x40 kw, di mana empat petugas telah disiapkan sebagai operator di pembangkit-pembangkit tersebut," ujarnya.

Selain lima kampung ini, ia juga sedang menyelesaikan proyek kelistrikan di Usaha Jaya, Tomolol, Folley, Yenwaupnor dengan tinggal melakukan pemasangan meter di rumah-rumah warga dan diharapkan secepatnya dapat segera selesai.

"Selain melistriki kampung, PLN juga sedang menyiapkan pembangunan pembangkit sistem besar PLTMG 2x10 MW di Kabupaten Raja Ampat, kini masih dilakukan survei untuk menentukan lokasi pembangunan," katanya lagi.

Ia menambahkan masuknya PLTMG ke sistem nantinya akan menambah daya mampu di Kabupaten Raja Ampat dari 2,2 MW menjadi 22,2 MW, di mana dengan ketersediaan daya yang cukup, hal ini dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Raja Ampat.
 

Pewarta: Hendrina Dian Kandipi
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar