counter

Dubes Palestina: proposal perdamaian AS tidak Solusi Dua Negara

Dubes Palestina: proposal perdamaian AS tidak Solusi Dua Negara

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair AlShun pada Konferensi Pers dalam rangka Peringatan Hari Nakba (Hari Kehancuran) Palestina di Jakarta, Jumat (17/5/2019). (ANTARA/Yuni Arisandy)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair AlShun menilai bahwa proposal perdamaian Israel-Palestina yang akan ditawarkan Amerika Serikat (AS) hanya permainan dan tidak berkonsep Solusi Dua Negara (Two-state Solution). 

"Proposal perdamaian yang disiapkan Trump hanya permainan karena konsepnya bukan solusi dua negara. Tidak ada yang berpihak pada kami, jadi kami yakin ini hanya permainan saja," kata Dubes Palestina Zuhair AlShun di Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan oleh Dubes Palestina pada Konferensi Pers dalam rangka Peringatan Hari Nakbah (Hari Kehancuran) Palestina yang diperingati setiap tanggal 15 Mei, yang merupakan peringatan tahunan pengusiran bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya negara Israel pada 1948.

Menurut dia, proposal perdamaian Israel-Palestina dari AS itu tidak akan pernah terwujud karena Presiden AS Donald Trump selama ini sudah memperlihatkan keberpihakannya kepada Israel.

"Kami lihat, Trump berada di belakang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama Pemilu Israel. Tidak mungkin mereka tidak berpihak," ujar Zuhair AlShun.

Selain itu, Dubes Al Shun menilai bahwa selama ini langkah politik AS juga sudah secara jelas menunjukkan dukungan kepada Israel dan dengan posisi yang menentang Palestina.

Dia menyebutkan bahwa keberpihakan Amerika Serikat itu dapat terlihat dari tindakan pemerintah AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, yang mana hal itu tidak sesuai dengan kesepakatan internasional.

"Trump juga memberhentikan dana bantuan kemanusiaan bagi Palestina melalui badan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA)," ucapnya.

Menurut data yang didokumentasikan, milisi Zionis selama fase Nakba mengambil alih secara paksa 774 desa dan kota Palestina guna mendirikan negara yang mereka sebut Israel di tanah Palestina. Mereka juga menghancurkan 531 desa dan kota Palestina, serta melakukan lebih dari 70 kasus pembantaian rakyat Palestina.

Selama proses Nakba, sedikitnya 15 ribu warga Palestina dibantai dan sekitar 800 ribu lainnya diusir dari desa-desa dan kota-kota mereka oleh pendatang Yahudi yang kebanyakan dari Eropa dan mendapat dukungan Inggris melalui Deklarasi Balfour.

Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar