counter

PCNU Bandarlampung ajak semua pihak jaga keutuhan bangsa

PCNU Bandarlampung ajak semua pihak jaga keutuhan bangsa

Ketua PCNU Bandarlampung Ichwan Aji Wibowo (Antara.lampung.com/Dian Hadiyatna)

Bandarlampung (ANTARA) - ​​​​​Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bandarlampung mengajak semua pihak untuk dapat menjaga keutuhan negara ini dengan tetap menghargai hasil Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga yang diberi kewenangan oleh negara sebagai penyelenggara.

"Sebagai negara yang besar marilah kita semua tokoh-tokoh alim ulama berekonsiliasi untuk merasa terpanggil menjadi seorang negarawan agar bangsa ini tetap terjaga keamanannya pasca penetapan hasil pemilu nanti," kata Ketua PCNU Bandarlampung Ichwan Aji Wibowo, saat dihubungi, Senin.

Menurut dia, bahwa apapun hasil dari KPU nanti baik itu menyenangkan atau tidak semua pihak harus bisa menerima penetapan tersebut karena semuanya sudah berjalan dengan mekanisme yang ada.

Apabila ada keberatan atas hasil tersebut kata dia, pihak yang merasa tidak puas atas penetapan itu lebih baik menyelesaikannya dengan menempuh jalur perundang-undangan yang berlaku.

NU sebagai sebuah ormas keagamaan yang besar di Indonesia sangat menghendaki kesatuan dan persaudaraan serta keutuhan negara di atas kepentingan organisasi ataupun kelompok.

Terkait akan adanya aksi massa pada penetapan hasil pemilu Ichwan mengatakan tidak masalah ketika demo itu berjalan dengan damai karena itu adalah bagian ekspresi dari sebuah proses demokrasi.

"Tidak masalah selama aksi itu damai namun tetap penyelesaian masalahnya harus sesuai dengan mekanisme perundang-undangan yang berlaku," kata dia.

Ia mengatakan bahwa kesatuan NKRI harus lebih dari apapun sehingga semua pihak juga harus menghindari mobilisasi massa yang dimaksudkan untuk menggoyangkan kestabilan bangsa Indonesia.

"Sekali saya mengajak kepada para tokoh-toko mari kita berikan yang terbaik untuk NKRI ini karena di atas politik ada yang jauh lebih penting dari itu yakni kemanusiaan," kata dia.

Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar