counter

Dampak buruk kecanduan ponsel untuk kulit: jerawat hingga penuaan dini

Dampak buruk kecanduan ponsel untuk kulit: jerawat hingga penuaan dini

Warga memerhatikan smartphone mereka di Times Square di New York City, Amerika Serikat, Rabu (8/5/2019). (REUTERS/Eduardo Munoz)

Jakarta (ANTARA) - Anda mungkin akan lebih rajin membersihkan smartphone Anda ketika tahu jika gawai favorit berbagai kalangan itu bisa menyebabkan berbagai masalah kulit, termasuk penuaan dini.

Divya Mehta, founder label perawatan kulit Epique Labs seperti dilansir Indian Express mengungkapkan ada lima masalah kulit akibat "kecanduan" menggunakan ponsel, seperti dermatitis, keriput dini, pigmentasi dan jerawat, lingkaran hitam dan kulit kusam.

Berikut paparan Mehta soal kelima masalah kulit tersebut berikut solusinya:

Dermatitis

Dermatitis merupakan peradangan pada kulit. Studi terbaru menunjukkan memegang smartphone terlalu dekat dengan kulit menyebabkan pembengkakan, kemerahan, gatal, atau melepuh di dekat tulang pipi, telinga, rahang, atau tangan.

Logam seperti nikel dan kromium yang terdapat pada smartphone bertanggung jawab untuk ini.

Solusinya: Gunakan perangkat handsfree seperti headsetbluetooth atau letakkan ponsel Anda pada mode speaker kapan pun Anda bisa, untuk menghindari kontak langsung dengan kulit.

Pigmentasi kulit dan jerawat

Smartphone cenderung menjadi hangat setelah digunakan dalam waktu lama. Ketika perangkat ini menjadi hangat, maka cenderung mengganggu produksi melanin normal kulit Anda, menyebabkan bintik-bintik gelap dan warna kulit yang tidak merata dalam jangka panjang.

Juga, karena telepon tidak bebas kuman. Kuman di gawai Anda bisa berpindah ke wajah dan menyebabkan kulit berjerawat.

Solusinya: Coba dan batasi lama panggilan. Jika itu tidak memungkinkan, ingatlah untuk selalu bergantian menerima telepon antara telinga kanan dan kiri. Cara ini akan membantu mengurangi terjadinya bintik hitam.

Selain itu, bersihkan ponsel Anda setiap hari menggunakan pembersih anti-bakteri dan ingatlah untuk menjaga kebersihannya sebelum bertukar ponsel dengan orang lain juga.

Ritual malam dan lingkaran hitam mata

Salah satu ritual malam, menjelang tidur, yang kerap orang lakukan adalah memeriksa unggahan Facebook terbaru, komentar di Twitter atau Instagram via ponsel. Ingatlah, saat mata Anda melihat layar yang terang di ruangan gelap terlalu lama, otak lebih sulit untuk bersantai dan masuk ke mode tidur.

Akibatnya, timbul lingkaran hitam di sekitar mata.

Solusinya: Sebaiknya jauhkan smartphoe dan tak menyentuhnya setelah makan malam. Alih-alih masuk ke media sosial, luangkan waktu satu jam untuk bersantai.

Kulit kusam

Paparan cahaya biru dari ponsel sebelum tidur buruk bagi kesehatan. LED biru yang dipancarkan smartphone tidak hanya melepaskan radiasi non-ion tetapi juga mengganggu siklus tidur alami tubuh Anda.

Selain masalah kesehatan lainnya, kurang tidur bisa menyebabkan keseimbangan jumlah air yang buruk dalam tubuh, sehingga mengakibatkan kulit kusam serta kerutan yang lebih terlihat.

Solusinya: Tidur yang cukup dan berkualitas baik penting untuk kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan kulit Anda.

Keriput

Saat ini usia bukanlah satu-satunya faktor yang bertanggung jawab pada munculnya keriput. Bahkan, orang berusia 20-an sudah mulai mengeluhkah kondisi ini di sekitar mata.

Menurut Mehta, terus-menerus menatap layar kecil dan memicingkan mata untuk membaca huruf kecil dapat menyebabkan kerutan di sekitar area leher atau daerah di bawah dagu, uga kerutan vertikal di antara kedua alis.

Solusinya: Para ahli menyarankan Anda memegang smartphone setinggi mata dan menambah ukuran font untuk menghindari masalah kulit ini. Selain itu, gunakan krim mata dengan aplikator pendingin untuk membantu mata rileks, juga krim pengencang kulit guna meningkatkan elastisitas dan produksi kolagen.

Baca juga: Rawat kulit dari sekarang agar tampil menawan saat Lebaran

Baca juga: Tujuh kebiasaan yang dapat merusak kulit

 

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Selamatkan anak, Kementerian PPPA bentuk desa bebas pornografi

Komentar